creativefaith logo

Strategi Marketing Lucu yang Bikin Konsumen Loyal

DATE
31 October 2025
READING TIME
4 mins
strategi marketing lucu

Aksi yang dilakukan dalam kampanye pemasaran tidak selamanya harus serius dan “jualan”.

 

Kenapa? Bayangkan saja audiens Anda lelah seharian setelah melakukan banyak aktivitas, kemudian mereka melihat iklan dan konten Anda yang membuatnya berpikir, harus membeli produk Anda atau tidak. Ini merupakan salah satu contoh di mana audiens bisa saja merasa jenuh melihat kampanye dari brand.

 

Maka dari itu, salah satu cara mengatasi masalah ini adalah lakukan penyegaran kampanye dengan sesuatu yang lucu.

 

Unsur-unsur humor dekat dengan audiens Indonesia yang sering bercanda dalam kesehariannya dan menjadikan humor sebagai hiburan.

 

Kenapa Humor Penting dalam Marketing?

Menurut studi yang dimuat dalam sebuah Jurnal Ilmiah dan Ekonomi, humor berpengaruh signifikan terhadap brand awareness dan brand recognition. Dengan begitu, menurut penelitian tersebut, sebuah brand akan lebih mudah diingat audiens ketika memasukkan unsur humor dalam iklan atau konten marketing-nya.

 

Pertanyaan selanjutnya, kenapa humor bisa meningkatkan awareness dan recognition sebuah brand? Beberapa faktor yang memengaruhi di antaranya:

  • Humor dapat menarik perhatian
  • Humor akan membuat perhatian seseorang terhadap sebuah konten menjadi lebih lama
  • Orang lebih mudah ingat sesuatu yang lucu
  • Kontennya “ringan” untuk diikuti

 

Lalu, bagaimana cara membuat sebuah kampanye pemasaran yang lucu? Simak uraian di bawah ini!

 

Baca Juga: Strategi Gimmick Marketing yang Berkesan dan Simpel. Hindari Asal Viral!

 

Strategi Kampanye Marketing yang Lucu

Humor lebih dari sekadar menaruh kelucuan atau punchline. Sebuah humor berkualitas harus tepat sasaran relevan dengan target audiensnya.

 

1. Kenali Audiens

Ada beragam jenis humor di dunia ini. Tidak semua jenis humor tersebut dapat membuat audiens Anda tertawa. Lalu, bagaimana membuat audiens tertawa atau tergelitik?

 

Maka dari itu, kenali audiens Anda lebih dulu, mulai dari usia, jenis kelamin, kebiasaan, dan lain-lain. Perbedaan karakteristik audiens, akan berbeda pula jenis humor yang dikonsumsi.

 

2. Pastikan Relevan dengan Audiens

Hal yang membuat sebuah humor menjadi lucu adalah bukan sekadar struktur humornya, melainkan relevansi konten humor dengan audiens. Jika audiens merasa humornya relevan dengan kehidupan mereka, tawa pun akan terjadi.

 

Untuk menjadi relevan, pelajarilah tentang hal-hal yang terjadi pada hidup audiens, contohnya:

  • Bagaimana audiens berangkat ke tempat kerja
  • Kegelisahan audiens
  • Bagaimana audiens mencari hiburan
  • Bagaimana audiens membuat keputusan
  • Bagaimana rutinitas audiens di tempat kerja

 

Sebagai catatan, kerangka berpikir untuk menjadi relevan dengan audiens tidak tertutup pada contoh di atas, ya! Anda bisa mengeksplorasi berbagai sisi kehidupan audiens untuk bisa relevan dengan mereka.

 

3. Relevan dengan Brand atau Produk

Selain dengan konsumen, sebuah kampanye, konten, atau iklan, harus relevan dengan brand persona dan produk yang dikonsumsi konsumen. 

 

Misalnya, iklan AQUA tentang orang Jepang yang terjebak di lift. Pada iklan tersebut menekankan bahwa untuk bisa konsentrasi, kita harus sering minum air putih. Itu merupakan sebuah pesan yang ada di semua iklan AQUA. Lalu, AQUA menaruh lelucon, saat pria yang mengacungkan jarinya ketika ditanya “Ada yang bisa ngomong Jepang” maju mendekati lift, lalu berseru dengan percaya diri, “Jepang!”.

 

4. Storytelling

Berceritalah pada audiens mengenai pesan brand dan humornya. Pasalnya, audiens akan lebih mudah mengingat sebuah cerita ketimbang sebuah humor yang hanya bersifat sebagai “tempelan”.

 

Contoh storytelling iklan yang lucu bisa Anda lihat di iklan-iklan Thailand yang sering viral.

 

5. Pelajari Format Komedi

Ada baiknya, Anda sebagai pelaku bisnis atau marketer mempelajari format-format komedi. Pelajarilah bagaimana sebuah komedi dibangun dari premis, set-up, lalu diakhiri punchline.

 

Punchline-nya pun bisa beragam, ada rule of three, call back, ironi, hiperbola, wordplay, pembalikan, misdirection, dan lain-lain.

 

6. Hindari Isu Sensitif

Dalam dunia komedi, memang ada yang dikenal dengan istilah dark comedy dan blue comedy. Namun, jenis komedi tersebut dibuat untuk industri hiburan.

 

Jika Anda hendak menggunakan humor dalam bisnis, sebaiknya tidak menggunakan jenis humor tersebut, terutama jika sampai menyinggung isu yang sensitif bagi masyarakat.

 

Sebenarnya bisa saja membuat komedi yang “sedikit gelap” dari isu sensitif, misalnya politik, isu sosial, dan lain-lain, tetapi akan terlalu berisiko. Anda tentu tidak mau ‘kan mempertaruhkan reputasi hanya demi sebuah humor?

 

Maka dari itu sebaiknya mencari formula humor yang lucu tetapi tetap aman.

 

7. Evaluasi

Setelah membuat iklan dengan humor, tugas Anda tidak berhenti. Cobalah analisis reaksi audiens terhadap iklan atau konten tersebut. Jika reaksinya tidak sesuai harapan, coba analisis, bagian mana yang jelek. Kemudian, buatlah kembali dengan format komedi atau humor yang baru.

Kolaborasi dengan Creative Faith

Meski terkesan “ringan”, humor atau komedi harus dipikirkan secara serius agar dapat relevan, menggelitik audiens, sekaligus menyampaikan pesan secara baik.

 

Strategi marketing yang lucu harus dipikirkan matang-matang karena berkaitan dengan sentimen audiens. Audiens berpotensi terikat dan loyal dengan Anda jika strateginya berhasil. Namun, jika gagal, audiens mungkin akan melupakan brand dan produk Anda..

 

Maka dari itu, Anda harus memiliki mitra strategis untuk merancang strategi yang relevan dalam mencapai tujuan dari marketing dan bisnis. Creative Faith dapat menjawab kebutuhan brand Anda tersebut.

 

Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand untuk menciptakan strategi marketing yang kuat, Creative Faith akan memikirkan semuanya dari awal sampai akhir untuk Anda.

 

Apakah brand Anda siap naik kelas?

 

Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

 

AUTHOR
Admin