Ketika business owner ingin mengganti nama dan citra sebuah brand, maka yang diperlukan adalah strategi rebranding yang tepat.
Rebranding tidak hanya perkara ganti nama, media, akun media sosial, website, dan platform promosi.
Lebih dari itu, rebranding melibatkan banyak faktor yang dalam jangka panjang menentukan interaksi bisnis Anda dengan pelanggan. Jadi, jangan sampai citra baik yang telah Anda bangun dalam jangka waktu lama rusak hanya karena strategi rebranding yang salah.
Apa Itu Rebranding?
Sebelum membahas strategi rebranding yang tepat, mari membahas dari hal fundamental terlebih dulu, yaitu mengenai definisi dari rebranding.
Rebranding adalah upaya menciptakan tampilan baru sebuah brand, baik itu nama, simbol, slogan, logo, warna, atau hal-hal lainnya.
Tujuannya, membentuk citra baru di dalam benak pelanggan dengan harapan akan mendatangkan customer dan leads yang sesuai dengan target pasar.
Selain itu, rebranding juga dilakukan ketika sebuah bisnis ingin membentuk persepsi publik atas brand yang dimilikinya.
Tujuan Rebranding
Tujuan akhir dari rebranding adalah meningkatkan performa bisnis sehingga produk brand tetap relevan dan mengundang lebih banyak konsumen.
Dalam upaya itu, rebranding harus memiliki target atau tujuan sebagai berikut:
- Menjangkau pasar baru: hal ini bisa tercapai karena rebranding dapat mengubah positioning dan menargetkan pasar yang berbeda
- Relevan dengan pasar: terkadang strategi branding yang lama bukanlah strategi yang buruk, melainkan sudah tidak lagi relevan. Dengan begitu, rebranding dapat membawa pembaruan agar selalu relevan dengan pasar
- Memperbaiki reputasi: jika brand Anda memiliki reputasi kurang baik, rebranding dapat memperbaikinya karena persepsi publik menjadi berubah
- Transformasi bisnis: apabila Anda hendak melakukan transformasi bisnis dan membuka peluang baru, rebranding harus dilakukan
- Meningkatkan daya tawar: mengubah gaya visual dan narasi ternyata sangat berpengaruh untuk meningkatkan nilai tawar Anda di pasar. Selain itu, Anda akan lebih kuat dalam persaingan di pasar.
- Semakin kompetitif: seiring waktu, kompetisi akan semakin ketat, baik karena kompetitor lama terus mencoba berinovasi atau muncul kompetitor baru yang bersaing. Maka dari itu, rebranding harus muncul sebagai refreshment pada bisnis sehingga brand lebih kompetitif.
- Mengubah positioning: bisa jadi positioning yang lama menjangkau pasar yang salah atau terlalu umum. Ketika rebranding, brand dapat memperbaiki posisi tersebut sehingga bisa menargetkan niche pasar yang tepat
Elemen Rebranding yang Harus Diperhatikan
Berikut adalah beberapa unsur yang diubah dalam upaya rebranding:
- Nama brand
- Logo
- Identitas visual (warna yang jadi ciri khas, tipografi, ikon, dan lain-lain)
- Tagline
- Brand voice
- Narasi
- Brand personality
- Brand positioning
- Cara menghadapi pelanggan
Namun, perlu digarisbawahi juga, perubahan elemen-elemen di atas, tidak harus dilakukan secara serentak.
Mengubah beberapa di antaranya atau sebagian pun termasuk rebranding.
Jadi, Anda harus menentukan gambaran besar strategi branding Anda terlebih dulu, baru menentukan elemen apa saja yang akan diubah.
Baca Juga: Penyebab Utama Traffic Iklan Digital Tinggi tapi Tidak Closing
Jenis-Jenis Rebranding
Beberapa jenis rebranding yang dapat Anda lakukan di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Rebranding Parsial
Rebranding parsial adalah jenis rebranding yang hanya mengubah beberapa elemen saja. Biasanya yang diubah adalah logo dan identitas visual.
Rebranding semacam ini pernah diakukan sejumlah brand besar, semisal Mitra Keluarga, Adidas, dan Juventus.
2. Rebranding Total (Overhaul)
Rebranding total adalah upaya rebranding dengan mengubah semua elemen brand. Mulai dari nama, logo, positioning, hingga narasi yang disampaikan.
Beberapa brand terkenal pernah melakukan ini, seperti Azko, OLX, dan Bank Mandiri.
3. Rebranding Proaktif
Rebranding proaktif merupakan cara rebranding dengan memperluas pasar dan menjangkau target audiens baru.
Beberapa contoh dari jenis rebranding proaktif di antaranya 99 Group, TikTok, dan McDonald's.
4. Rebranding Reaktif
Rebranding reaktif biasanya dilakukan karena adanya krisis, perubahan kepemilikan, atau reputasi yang buruk.
Contoh brand yang melakukan rebranding ini adalah Netflix, Bali United (sebelumnya Persisam), dan X.
Contoh Rebranding yang Sukses
1. MyRoti
Sebelumnya, roti ini dikenal dengan nama "Yamazaki". Nama ini tampaknya kurang familiar bagi telinga masyarakat Indonesia.
Akhirnya, brand roti ini berubah nama menjadi "MyRoti". Tujuannya, menyentuh sisi emosional konsumen.
Kemudian, MyRoti mengubah identitas visualnya, mulai dari warna, tipografi, dan tone brand. Kemasan juga diubah untuk menunjukkan nuansa yang fresh dan family-oriented.
2. Gojek
Semula, strategi Gojek hanya menyediakan layanan pemesanan ojek untuk antar-jemput. Namun, seiring waktu, kebutuhan konsumen bertambah dan Gojek membuat aplikasinya menjadi super-app.
Dengan begitu, konsumen Gojek dapat memesan makanan, mengirim barang, dan berbagai aktivitas lainnya di dalam aplikasi yang sama.
Maka dari itu, Gojek juga mengubah logo yang lebih universal sehingga relevan dengan semua layanannya. Kemudian, slogannya pun menjadi "Pasti Ada Jalan" yang menggambarkan brand-nya sebagai solusi untuk membantu masalah konsumen sehari-hari.
3. Wardah
Wardah melakukan rebranding parsial dengan mengubah beberapa elemennya tanpa mengubah nama dan identitas lainnya.
Semula, Wardah identik dengan pelopor kosmetik berlabel halal. Kemudian, seiring waktu, Wardah mengubah posisinya menjadi sebuah brand yang menunjang inklusivitas dan membuat konsumennya menjadi stylish.
Kemudian, Wardah uga mengubah logo agar menjadi lebih minimalis dan elegan.
4. Trans Studio Mall
Semula, mal ini bernama Bandung Supermall (BSM) yang menjadi tempat warga Bandung dan sekitarnya jalan-jalan.
Kemudian, pada tahun 2011, BSM membangun sebuah taman ria indoor. Lalu mengganti segmen target pasarnya menjadi menengah ke atas.
Rebranding pun dilakukan, mulai dari nama menjadi Trans Studio Mall (TSM), desain interior yang jadi lebih elegan dan besar, serta menyediakan gerai-gerai dari sejumlah brand yang memiliki reputasi sebagai brand premium.
5. TikTok
Terjadi disrupsi besar yang dilakukan oleh TikTok. Semula, TikTok dikenal sebagai platform dengan berbagai konten video pendek. Kebanyakan kontennya adalah pengguna TikTok yang joget-joget di depan kamera.
Lalu, setelah melakukan rebranding, TikTok diisi oleh bervariasi content creator, mulai dari komedi, edukasi, vlog, dan lain-lain.
Tidak lama setelah, TikTok menjadi sebuah marketplace yang menjual berbagai jenis barang.
Proses rebranding ini pun tampak berjalan mulus dan sukses. Terbukti, sekarang banyak orang yang berbelanja melalui TikTok.
Baca Juga: Strategi Branding iPhone yang Sukses Naikkan Status Sosial Penggunanya
Merancang Strategi Rebranding yang Terbukti Sukses
Perancangan strategi rebranding tidak dibangun dalam waktu semalam. Lakukanlah langkah-langkah di bawah ini agar proses rebranding berjalan mulus.
1. Riset
Sebelum mengusulkan ide rebranding, pastikan Anda melakukan riset secara mendalam. Risetlah persepsi konsumen Anda terhadap brand.
Lalu, lakukan survei, baik melalui wawancara dan data pasar mengenai perilaku konsumen Anda. Analisislah apa yang menjadi kelebihan brand Anda dan apa yang dibutuhkan oleh publik.
Hasil analisis ini akan menentukan sukses atau tidaknya proses rebranding Anda.
2. Tentukan Tujuan
Tentukanlah tujuan Anda dalam rebranding. Ada beberapa tujuan yang harus Anda pertimbangkan dalam proses rebranding:
- Apakah Anda ingin memperluas audiens?
- Apakah ada reputasi yang perlu diperbaiki?
- Apakah identitas brand saat ini masih relevan?
- Apakah Anda ingin mengubah target audiens?
- Apakah interaksi Anda dengan audiens selama ini sudah berjalan baik?
3. Perhatikan Nilai yang Dibangun sejak Awal
Visual, nama, logo, dan target audiens dapat diubah, tetapi nilai dari sebuah brand tidak bisa diubah.
Pastikan branding yang baru relevan dengan tren tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai lama. Nilai yang dimaksud adalah kualitas produk, bahan baku, filosofi pelayanan, dan tujuan bisnis.
4. Siapkan Komunikasi Publik
Rebranding yang berhasil adalah jika sebagian besar audiens mengetahui perubahan yang Anda lakukan dan tidak menurunkan kualitas produk atau jasa.
Untuk itu, buatlah kampanye edukatif yang dapat menjelaskan perubahan rebranding dan manfaatnya untuk konsumen. Pastikan konsumen memahami bahwa perubahan ini dilakukan untuk kebaikan konsumen.
5. Uji Coba dan Survei
Sebelum dikenalkan ke publik, lakukanlah uji coba dan survei untuk mengukur dan memprediksi tingkat kesuksesan dari rebranding.
Rebranding adalah Investasi
Rebranding merupakan sebuah investasi jangka panjang. Pasalnya, Anda tentu perlu mengeluarkan resource yang tidak sedikit saat rebranding.
Namun, jika hasilnya sukses, keuntungan yang didatangkan berkali-kali lipat lebih besar dari resource yang Anda keluarkan.
Maka dari itu, Anda harus merancang strategi rebranding dengan baik.
Kolaborasi dengan Creative Faith
Rebranding bukan proses yang dapat Anda lakukan sendiri, melainkan membutuhkan tim yang tepat untuk merancang strategi dan eksekusi.
Karena merupakan bagian dari strategi bisnis, rebranding harus melibatkan lintas departemen, mulai dari business development, data analis, marketing, dan kreatif.
Maka dari itu, Anda membutuhkan mitra strategis untuk merancang strategi marketing dan kreatif yang berorientasi target pasar untuk mencapai tujuan dari bisnis Anda..
Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand dalam menciptakan berbagai strategi yang kuat untuk kebutuhan marketing, Creative Faith akan memikirkan semua sisi kreatif dan strategis untuk bisnis Anda.
Apakah brand Anda siap naik kelas?
Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

