Tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan aplikasi Gojek, 'kan?
Lebih dari sekadar aplikasi, Gojek telah menjelma menjadi brand yang mendisrupsi banyak sektor bisnis.
Kejelian Gojek dalam melihat peluang bisnis dan mengoptimalkan aplikasinya tentu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan strategi marketing yang relevan dengan audiensnya.
Bagaimana Gojek merancang strategi pemasarannya?
Yuk, kita pelajari bersama!
Strategi Marketing Gojek yang Bisa Diikuti
1. Nama Brand Sesuai dengan Budaya Lokal
Salah satu hal yang menjadikan brand ini jenius dalam pemasaran adalah dalam pemilihan nama brand.
Nama Gojek sendiri, berasal dari kata ojek, yang merupakan transportasi sepeda motor tradisional di Indonesia. Jadi, ketika Gojek muncul, tidak butuh waktu lama untuk memperkenalkan apa layanan utama dari perusahaan ini.
2. Story Telling yang Relevan dengan Audiens
Cobalah tonton kembali beberapa iklan Gojek di Youtube. Sebenarnya, semua iklannya memiliki pesan sederhana tetapi dibungkus dengan visual sinematik dan narasi dengan bumbu humor.
Padahal, hal-hal yang dibicarakan adalah sesuatu yang terjadi di keseharian, semisal mengakali tuas dispenser dengan garpu, ingin mie instan tetapi di luar hujan, menyuruh anak belanja ke warung, dan lain-lain.
Namun, situasi sederhana tersebut disulap menjadi iklan yang menggelitik dan memberikan inti pesan di akhir iklan, yaitu masalah-masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat diselesaikan oleh Gojek.
3. Kolaborasi dengan Brand Besar dan UMKM
Sebelumnya, yang memiliki layanan antar-jemput barang atau makanan adalah brand-brand besar. Namun, setelah Gojek berkembang, UMKM pun jadi memiliki panggung.
Sekarang, kamu bisa membeli makanan dari resto kecil, kafe, kios, sampai pedagang kaki lima melalui aplikasi Gojek.
Hal ini dilakukan karena Gojek melihat peluang besar di sana. Gojek tahu bahwa sebagian besar target market-nya masih membelanjakan uangnya di UMKM atau warung-warung sederhana.
Memanfaatkan perilaku konsumen seperti itu, Gojek pun berkolaborasi dengan hampir semua brand, baik itu brand kecil, brand besar, atau UMKM.
4. Strategi Promosi
Gojek tahu bahwa salah satu perilaku konsumennya adalah mencari produk atau jasa yang paling menguntungkan.
Maka dari itu, Gojek menggunakan banyak program promosi dan cashback sebagai cara untuk mengakuisisi pengguna. Strategi ini diharapkan dapat menarik minat konsumen untuk terus menggunakan Gojek.
5. Adaptasi terhadap Perubahan Pasar
Fitur ini muncul saat pandemi Covid-19. Ketika pandemi terjadi, semua orang diimbau untuk meminimalisasi kontak dengan orang lain.
Maka dari itu, untuk menghindari risiko penularan, Gojek melahirkan fitur pengantaran makanan dan paket tanpa kontak langsung.
Dengan fitur ini, kamu juga bisa mengirim pesan pada driver, di mana paket yang kamu pesan harus ditaruh.
Kini pandemi telah selesai, tetapi pengantaran tanpa kontak langsung telah menjadi perilaku baru para konsumen Gojek. Hal ini juga yang dapat membuat mereka mempertahankan konsumennya.
Intinya, bukan pada fitur "tanpa kontak langsung", tetapi bagaimana Gojek dapat beradaptasi pada situasi atau tantangan yang sedang terjadi.
6. Diversifikasi Produk
Seperti yang Anda ketahui, awalnya Gojek hanya menyediakan jasa pengantaran orang menggunakan kendaraan roda dua.
Namun, seiring waktu, akhirnya bisnis Gojek berkembang dengan membangun ekosistem seluruh kebutuhan harian konsumen. Maka dari itu, lahirlah GoCar, GoFood, GoSend, GoMart, hingga layanan keuangan digital, Gopay.
Berawal dari jasa pengantaran orang, Gojek memiliki visi untuk menjadi bagian dari gaya hidup konsumennya. Dengan begitu, konsumen akan terbiasa dan "tergantung" pada aplikasi Gojek.
Baca Juga: Strategi Ekspansi Pasar dari Lokal sampai Global, Bisnis Tumbuh Berkelanjutan
7. Kampanye Emosional
Salah satu cara untuk menarik simpati audiens adalah dengan memicu sisi emosionalnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Gojek.
Maka dari itu, Gojek kerap berkolaborasi dengan content creator atau brand lain untuk mengangkat kisa mitra driver, kisah solidaritas saat pandemi, hingga cerita-cerita perjuangan para mitra UMKM.
Pendekatan ini membuat Gojek terasa lebih dekat dengan audiensnya dan tidak hanya brand yang "sekadar bisnis".
Faktor emosi inilah yang kemudian membuat para konsumen menjadi loyal.
Kolaborasi dengan Creative Faith
Belajar dari Gojek, terlihat bahwa strategi marketing tidak hanya soal promosi, tetapi juga soal membangun ekosistem, kedekatan emosional, dan keberlanjutan.
Bagi Anda yang merupakan pengusaha atau pengambil keputusan di perusahaan, Anda juga bisa menerapkan apa yang dilakukan Gojek dengan cara amati, tiru, dan modifikasi sesuai konteks bisnis Anda.
Apakah Anda masih bingung mengenai cara untuk menerapkannya?
Di sinilah Creative Faith hadir sebagai mitra dan teman diskusi Anda.
Kami membantu bisnis mengembangkan strategi digital marketing yang terukur, relevan, dan berakar pada identitas brand Anda.
Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

