Komunikasi brand tidak hanya tentang narasi yang disampaikan kepada audiens, tetapi juga visual yang dapat menarik perhatian dan "berbicara" banyak.
Pasalnya, konsumen tidak hanya membaca atau mendengar isi pesan, tetapi juga melihat tampilan visual.
Ketika berhasil menarik perhatian melalui tampilan visual, konsumen akan membaca atau mendengar pesan hingga akhir. Namun, jika dari tampilan visual sudah tidak menarik, konsumen akan melewatkan apa pun yang hendak Anda sampaikan.
Inilah alasan diperlukannya strategi visual branding yang tepat. Apa itu visual branding dan bagaimana menyusun strateginya agar cepat menarik perhatian konsumen?
Simak selengkapnya hanya di artikel ini, ya!
Apa Itu Visual Branding?
Visual branding adalah proses membangun identitas brand melalui elemen-elemen visual, misalnya logo, warna, tipografi, desain kemasan, hingga konsistensi visual di media digital. Tujuannya adalah menciptakan asosiasi kuat di benak audiens sehingga brand mudah dikenali, diingat, dan dipercaya.
Sebagai catatan, visual branding tidak hanya sekadar estetika, ya! Namun, visual branding yang bagus akan memengaruhi perilaku dan engagement konsumen.
Sebagai contoh, jika Anda melihat logo apel yang tampak dimakan di bagian atasnya, pasti identik dengan brand Apple. Lalu, ketika mendengar atau membaca tulisan "Just Do It", top of mind Anda pasti Nike.
Lalu, ketika pergi ke minimarket, ketika melihat kemasan mie instan dengan warna putih dengan tipografi yang khas dan tampilan mie yang menggoda, Anda sudah pasti mengenal bahwa itu adalah Indomie.
Hal-hal seperti inilah yang menjadi tujuan dari visual branding.
Baca Juga: Strategi Komunikasi Kreatif yang Bikin Dekat dengan Konsumen
Elemen Visual Branding
Berikut adalah beberapa elemen visual branding yang tidak boleh Anda lewatkan:
1. Logo
Pastikan logo sederhana, relevan, dan mudah diingat.
2. Palet Warna
Selain memiliki ciri khas, pastikan memilih palet warna yang memengaruhi emosi dan persepsi konsumen. Penerapan palet warna yang konsisten akan membuat konsumen mengasosiasikan warna tersebut dengan brand Anda.
3. Tipografi
Pemilihan font bukan hanya soal estetika, melainkan juga mencerminkan karakter brand. Serif memberi kesan klasik dan formal, sementara sans-serif lebih modern dan minimalis.
4. Gaya Visual
Pastikan brand Anda memiliki gaya visual yang khas, termasuk pada fotografi, ilustrasi, ikonografi, dan bentuk grafis. Gaya visual yang khas dan beda dari kompetitor akan membantu brand terlihat unik dan otentik.
5. Desain Kemasan
Desain kemasan dapat mencerminkan target konsumen dan pesan yang hendak disampaikan. Kemasan sebuah produk yang ditujukan untuk pasar premium tentu akan berbeda dari kemasan untuk target pasar yang biasa. Maka dari itu, untuk membedakan "kelasnya", desain kemasan pun harus dibuat berbeda.
6. Media
Media dapat menjadi representasi pertama sebuah brand karena perilaku konsumen hari ini yang selalu berkutat di media sosial dalam kesehariannya. Jadi, pastikan visual branding yang kuat juga tampak dari konten-konten media sosial.
Baca Juga: 9 Strategi Branding Unik untuk Brand Baru. Narasi Jadi Kunci Utama!
Strategi Visual Branding yang Tepat
1. Bangun Brand Guidelines yang Solid
Dokumentasikan elemen visual brand dalam brand guidelines. Dari segi visual, hal-hal yang harus tercantum dalam brand guidelines di antaranya:
- Logo dan penggunaannya
- Palet warna dan kodenya
- Gaya tampilan desain visual
- Penempatan elemen-elemen visual
2. Kenali Audiens dan Psikologi Warna
Visual branding yang sukses berangkat dari pemahaman siapa target konsumen. Dalam hal ini, Anda harus riset, warna seperti apa yang disukai dan diingat oleh konsumen ketika berbicara tentang jenis produk Anda.
Misal, Anda memiliki produk coklat dan menargetkan pembeli dari kalangan milenial. Biasanya, coklat yang disukai anak-anak milenial memiliki tampilan sederhana, tidak banyak corak, tetapi terlihat elegan. Lalu, pilihlah palet warna yang sesuai dengan psikologi konsumen tersebut.
3. Storytelling Visual yang Kuat
Tampilan visual tidak hanya harus estetik, tetapi juga bisa bercerita. Maka dari itu, brand harus punya storytelling yang kuat.
Sebagai contoh, brand Playfield Kid's Academy. Tampilan logo, pemilihan warna, dan konten di platform digital menampilkan cerita dari owner brand yang ingin mengajak orang tua murid untuk mendorong anak beraktivitas di luar rumah.
4. Optimalkan Platform Digital
Di era serba digital seperti sekarang, tidak mungkin untuk melewatkan platform digital dalam setiap kampanye pemasaran.
Pastikan elemen visual adaptif di berbagai format, mulai dari feed Instagram, iklan display, website, hingga aplikasi mobile. Visual branding yang responsif meningkatkan engagement dan konversi.
5. Tes
Lakukanlah A/B testing untuk melihat tampilan visual seperti apa yang menarik perhatian konsumen. Anda juga dapat menentukan indikator keberhasil dari tes ini, semisal tingkat engagement, jumlah transaksi, atau indikator lainnya.
Indikator Keberhasilan
Untuk melihat apakah strategi berhasil atau tidak, tentu harus melihat juga elemen lainnya, semisal copywriting, kampanye marketing yang berjalan, dan brand image yang dibangun.
Anda dapat menggunakan berbagai indikator sebagai berikut:
- Tingkat penjualan yang naik
- Audiens berhenti scrolling ketika melihat konten Anda di media sosial
- Interaksi meningkat
- Jumlah orang yang berusaha menghubungi brand Anda meningkat
- Identitas kuat terbangun
Saatnya Kolaborasi dengan Creative Faith!
Membangun visual branding yang kuat tentu membutuhkan strategi dan analisis yang tepat. Untuk memikirkan kedua hal ini, tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Namun, Anda tidak perlu khawatir! Pasalnya, Creative Faith dapat menjadi mitra strategis yang membantu Anda memikirkan strategi yang tepat dalam membangun visual branding.
Sebelumnya, Creative Faith juga telah berhasil membantu banyak brand membangun visual branding yang kuat.
Apakah Anda siap membangun visual branding yang mudah diingat konsumen dalam jangka waktu panjang?

