Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan oleh brand adalah sibuk merancang strategi pemasaran di semua platform tetapi lupa hal mendasar yang penting, yaitu user experience atau UX.
Bayangkan, Anda sudah membuat fitur yang bagus di aplikasi dan website, tetapi audiens bingung menggunakannya. Bisa jadi karena tampilan yang kurang user-friendly atau navigasi yang tidak jelas pada platform tersebut.
Maka dari itu, diperlukan strategi yang jelas dalam mendesain UX untuk memenuhi kebutuhan marketing dan bisnis.
Berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk merancang strategi UX yang dapat mendongkrak performa marketing dan bisnis Anda.
Pentingnya Berstrategi dalam Merancang UX
Setidaknya, ada tiga poin penting kenapa strategi sangat penting dalam mendesain UX. Di antaranya adalah sebagai berikut:
- UX menentukan kecepatan audiens memahami brand
- UX yang baik mempermudah navigasi audiens dan mendorongnya lebih cepat dalam pengambilan keputusan
- UX yang baik akan membuat audiens lebih nyaman menyelesaikan aktivitas di platform Anda, entah itu jual-beli, mengisi formulir, booking pesanan, dan lain-lain.
Lebih dari sekadar desain warna, bentuk, dan layout, UX mencakup cara berpikir audiens atau pengguna, caranya memahami pesan, hingga persepsi psikologis mereka.
Singkat kata, ada dua kata kunci yang menjadi orientasi strategi UX, yaitu kejelasan informasi dan kemudahan pengguna.
Baca Juga: Strategi Marketing Diskon Tepat Sasaran dan Waktu
Elemen Strategi UX

Sebelum masuk lebih detail pada strategi UX, Anda harus memahami terlebih dulu mengenai beberapa elemen yang menjadi pertimbangan dalam mendesain UX.
Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Business Goals
Pastikan desain UX sesuai dengan tujuan Anda berbisnis, apakah itu memperluas pasar, meningkatkan loyalitas pelanggan, meningkatkan eksposur brand, atau tujuan lainnya.
2. Kebutuhan Pelanggan
Tidak sekadar estetik, Anda harus mengetahui terlebih dulu, apa yang dibutuhkan oleh pelanggan Anda ketika mereka masuk ke platform atau website Anda.
3. Pahami Kompetitor
Cobalah menganalisis UX dari kompetitor dan pahami kelemahannya. Setelah identifikasi kelemahan kompetitor, pastikan Anda memiliki solusi agar pelanggan tidak menemukan kelemahan itu pada platform Anda.
4. KPI
Untuk mengetahui strategi yang Anda terapkan berhasil atau tidak, tetapkanlah KPI yang dapat diukur, misalnya conversion rate, bounce rate, average engagement time, tingkat kepuasan pelanggan, dan lain-lain.
Baca Juga: Strategi Digital Marketing dengan Konsep 4P, supaya Bisnis Naik Kelas
Strategi UX untuk Tingkatkan Performa Marketing
1. Desain Harus Jelas
Meski tidak estetik, sebuah desain haruslah mengandung informasi yang jelas untuk audiens dan pelanggan.
Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah "one screen one message". Artinya, setiap halaman yang tertera pada layar hanya memiliki satu pesan atau fungsi.
Contoh:
- Homepage: etalase brand, memberikan wawasan singkat pada audiens mengenai fitur produk Anda
- Halaman Order: hanya ditujukan untuk proses transaksi
- Halaman Our Product: hanya ditujukan memberikan wawasan secara detail tentang produk yang dijual
- Halaman About Us: hanya memberikan gambaran singkat mengenai perusahaan Anda, kapan berdiri, dan bergerak di bidang apa
2. Copywriting Harus Membimbing, Bukan Estetik
Copy untuk UX tidak seperti copy saat membuat kepsyen.
Tugas dari UX copywriter adalah membuat kata-kata yang menggugah emosi.
Formula UX copywriting yang efektif:
- Action + HasilAlih-alih sekadar membuat CTA, cobalah rancang copy yang mencerminkan hasil dari aksi yang dibuat oleh audiens.Contoh:"Buat Janji Temu dan Konsultasi Sekarang!""Pesan dan Dapatkan Produk Pilihan!"
- Microcopy yang menenangkanBuatlah garansi agar audiens atau pelanggan merasa aman ketika menggunakan platform Anda.Contoh:"Kami melindungi privasi Anda”“Pembayaran aman dan terenkripsi”
- Gunakan kata-kata familiarMeski keren, sebuah kata mungkin saja tidak dikenal oleh target audiens Anda. Jadi, buatlah copy dari sudut pandang audiens, bukan Anda.Contoh:
- Daripada menggunakan kata "ojek daring", gunakanlah "ojek online"
- Kata "Patient Journey" hanya dimengerti oleh tim teknikal, sedangkan untuk pasien bisa menggunakan kata "Alur Layanan Pasien" yang lebih mudah dimengerti
3. UX Tingkatkan Performa SEO
Desain UX memang tidak secara langsung memengaruhi ranking SEO, tetapi hasilnya tetap terasa. Pasalnya, algoritma Google membacara perilaku audiens.
Sebagai contoh, pengguna akan menghabiskan lebih banyak waktu di website ketika situasi berikut terpenuhi:
- Struktur desain rapi
- Navigasi jelas dan mudah dimengerti
- Waktu untuk loading sebuah halaman kurang dari 3 detik
- Struktur heading jelas (H1, H2, H3, dan seterusnya)
Jika elemen-elemen di atas tidak terpenuhi, audiens yang masuk website Anda akan merasa tidak nyaman dan meninggalkan website begitu saja. Hal inilah yang akan memengaruhi penilaian atau algoritma Google karena website Anda dianggap "tidak membantu" audiens.
4. Manfaatkan Psikologi Audiens
Psikologi juga memengaruhi sedikit banyak dari UX.
Berikut strategi yang dapat digunakan:
- Batasi pilihan, soalnya jika terlalu banyak pilihan, akan membuat audiens bingung (gunakan kategori atau highlight "produk andalan)
- Call-to-action harus mudah di-tap atau diklik, terutama di platform mobile
- Bagian atas dan terakhir dapat digunakan untuk pilihan menu, daftar harga, dan fitur produk (audiens paling mengingat poin pertama dan terakhir)
5. Hierarki Visual
Terapkanlah hierarki dalam visual yang ditampilkan pada platform Anda. Tujuannya, untuk meningkatkan keteringatan audiens akan brand atau informasi yang Anda sampaikan.
Cara sederhananya adalah gunakalah ukuran dan kontras untuk membuat mata bergerak sesuai tujuan marketing.
6. Desain Alur yang Mengarahkan ke Conversion
Tujuan dari bisnis adalah mendapat profit. Jadi, pastikan hal ini juga dipertimbangkan dalam merancang UX.
Conversion di sini bisa mengacu pada berbagai bentuk, mulai dari leads generation, transaksi, mengisi formulir, dan lain-lain.
Supaya tujuannya tercapai, buatlah flow yang mengatur alur persuasi:
Contoh alur yang baik:
- Kejelasan pesan atau nilai yang ingin disampaikan
- Bukti kualitas produk (testimoni, rating, dan lain-lain)
- Garansi
- Bridging sebelum CTA
- CTA untuk konversi
- Halaman post-conversion (email onboarding, thank you page, dan lain-lain)
Flow yang baik meningkatkan lifetime value karena pengguna merasakan pengalaman yang konsisten dari awal hingga akhir.
7. UX Flow dari Media Sosial ke Website/Aplikasi
Hal ini sangat penting, terutama jika Anda ingin mengintegrasikan semua platform digital.
Pastikanlah flow dari CTA di media sosial ke website atau aplikasi berjalan mulus.
Contoh:
Anda membuat iklan diskon 20% di Instagram. Iklan tersebut mengarahkan pada website.
Nah, link tersebut harus mengarah pada sebuah landing page yang pesan pertamanya adalah "Diskon 20%". Dengan begitu, kemungkinan besar, audiens akan mencari informasi lebih dalam di landing page tersebut lalu melakukan transaksi.
Jadi, jangan sampai, iklan 20% tersebut hanya terhubung ke homepage yang informasinya berbeda dari iklan.
8. Tetapkan KPI
Berikut KPI yang dapat diterapkan untuk mengetahui keberhasilan sebuah strategi UX.
Metriks UX:
- Average engagement time
- Bounce rate
- Jumlah klik atau event di dalam platform
- Durasi loading (terlalu lama atau sebentar)
Metriks marketing:
- Conversion rate
- Jumlah leads
Kolaborasi dengan Creative Faith
Seperti yang Anda ketahui, UX bukan sekadar estetika, melainkan menjadi elemen yang memengaruhi angka revenue atau setidaknya leads yang didapat.
Merancang strategi UX memang tidak bisa diciptakan dalam waktu semalam saja. Diperlukan kajian mendalam dari tujuan bisnis hingga pengalaman yang harus didapat oleh audiens.
Maka dari itu, Anda membutuhkan mitra strategis untuk merancang strategi UX yang relevan dalam mencapai tujuan dari marketing dan bisnis. Creative Faith dapat menjawab kebutuhan brand Anda tersebut.
Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand untuk menciptakan berbagai strategi yang kuat untuk kebutuhan marketing, Creative Faith akan memikirkan semuanya dari awal sampai akhir untuk Anda.
Apakah brand Anda siap naik kelas?

