Konten merupakan faktor penting dalam dunia pemasaran atau marketing. Apalagi, setidaknya dalam dua dekade terakhir, platform untuk menampilkan berbagai konten kreatif semakin bertambah.
Dulu, brand berlomba-lomba menampilkan konten di media koran, baliho, dan televisi. Namun saat ini, pilihan menjadi semakin banyak, mulai dari Youtube, Instagram, TikTok, Spotify, hingga blog.
Tidak hanya platform, jenis kontennya pun jadi sangat banyak, yaitu tulisan panjang, tulisan pendek, audio, video panjang, dan video pendek.
Lalu platform apa dan jenis konten apa yang sebaiknya Anda gunakan? Jawabannya, bukan terletak pada jenis platform atau kontennya, melainkan pada strategi pembuatan konten itu sendiri.
Nah, di artikel ini, kita akan membahas bagaimana merancang strategi konten yang baik untuk sebuah brand. Yuk, simak artikel ini sampai selesai!
Mengapa Strategi Itu Penting?
Pernah mendengar mengenai istilah "content is a king"?
Ya, itu adalah kenyataan di era serba digital seperti sekarang, konten adalah raja. Hal ini tidak lepas dari perilaku masyarakat yang senang mengonsumsi konten.
Maka dari itu, brand harus hadir di tengah masyarakat dengan cara membuat konten.
Dengan strategi yang tepat, brand akan mendapat banyak benefit, di antaranya:
- Menjangkau audiens yang tepat di platform yang sesuai
- Pesan brand atau brand message tersampaikan dan mudah dimengerti audiens
- Meningkatkan engagement dan konversi
- Memaksimalkan efisiensi waktu dan anggaran tim marketing
Sebaliknya, tanpa strategi yang tepat, konten hanya akan menjadi sampah di platform digital dan offline yang muncul tanpa arah.
Misalnya, sebuah brand fesyen membuat konten tentang fesyen tetapi tidak sesuai dan relevan dengan target market-nya, brand tersebut tidak akan mencapai tujuan bisnis yang dicapai. Kenapa? Karena target market-nya tidak menonton atau melihat kontennya, sehingga pesan yang disampaikan brand tersebut pun tidak sampai.
Strategi Konten vs Content Marketing
Sekilas, strategi konten dan content marketing terlihat mirip. Namun ternyata, kedua istilah ini berbeda.
Strategi konten adalah keseluruhan konsep untuk membuat, mengelola, dan optimasi konten. Sementara, content marketing adalah eksekusi dari strategi konten yang telah dibuat.
| Strategi Konten | Strategi Content Marketing |
|---|---|
| Merancang pendekatan jangka panjang terhadap semua konten brand | Menggunakan konten untuk mencapai tujuan marketing tertentu |
| Fokus pada planning, persona, tone of voice, channel, dan pesan | Fokus pada eksekusi kampanye konten untuk promosi |
| Termasuk konten edukasi, internal brand, dan komunikasi nonpromosi | Biasanya fokus pada konten promosi yang menarik perhatian konsumen |
Berdasarkan perbedaan di atas, dapat disimpulkan bahwa content marketing adalah bagian dari strategi konten.
Tips Merancang Strategi Konten yang Efektif
1. Tentukan Tujuan Utama
Mari kembali ke dasar dari marketing funnel, yaitu ada awareness, consideration, konversi, dan retensi.
Jika tujuannya awareness, dapat mulai memikirkan konten ringan yang dapat dikonsumsi banyak orang. Ketika masuk ke consideration, rancanglah konten edukasi mengenai brand Anda.
Untuk konversi, Anda harus membuat konten yang bagus untuk menunjukkan produk atau jasa Anda, lalu tawarkan untuk bertransaksi. Jika fokus di retensi, maka Anda harus membuat konten untuk pelanggan lama agar mereka tertarik bertransaksi atau setidaknya engage dengan brand Anda.
2. Kenali Audiens
Persona audiens, mulai dari usia, pekerjaan, jenis kelamin, keresahan mereka, gaya hidup, hingga platform yang sering digunakan audiens, harus Anda gali.
Beda persona, beda pula konten yang akan dibuat.
3. Pilih Platform yang Tepat
Fokusnya bukan pada memakai semua platform, melainkan memilih platform yang tepat.
Konten yang bisa besar di TikTok belum tentu akan disukai di LinkedIn. Jadi pilihlah dengan bijak!
Cara sederhananya, pilihlah platform di mana audiens Anda banyak menghabiskan waktu.
4. Pilar Konten
Anda harus membuat pilar konten yang jelas. Dalam bahasa yang lebih sederhana, buatlah rubrik untuk platform yang Anda gunakan.
Misalnya, ada pilar edukasi, testimoni, product knowledge, dan promo. Setiap pilar harus memiliki ciri khas dan fungsinya masing-masing.
Misal, untuk pilar promo, jangan gunakan gaya yang sama dengan konten edukasi, dan sebaliknya.
5. Maksimalkan Penggunaan Data
Pembuatan konten yang baik itu bukan berdasarkan "feeling", melainkan strategi yang telah diatur berdasarkan data.
Jadi, analisislah semua data yang Anda miliki. Dari data, Anda akan mengetahui demografi, perilaku, daya beli audiens, dan lain-lain.
Dari insight tersebut, Anda akan mengetahui konten seperti apa yang harus dibuat.
6. Seimbangkan Visual dan Copy
Visual (gambar atau video) tanpa copy bisa jadi membuat audiens tidak memahami konteks dari sebuah tayangan visual. Sebaliknya, visual yang dibubuhi copy terlalu banyak juga akan menjadi masalah karena akan memecah fokus audiens.
Jadi, pastikan kedua elemen ini seimbang saat Anda tampilkan.
Apabila membuat konten video, Anda harus membuat visual berbicara banyak, sedangkan copy berfungsi mempertajam konteks atau pesan yang ingin disampaikan.
Sementara, jika kontennya berupa carousel atau artikel edukasi, taruh kekuatan terbesar pada copy yang mudah dipahami audiens. Sementara, visual berfungsi memberikan gambaran umum mengenai topik yang dibahas.
7. Jangan Lupa Hook!
Audiens tidak memiliki waktu lama untuk mengonsumsi sebuah konten, jadi pastikan setiap konten yang ditayangkan memiliki hook. Fungsi hook adalah membuat audiens tetap menonton konten Anda sampai selesai.
Hook harus berada di depan karena 3 detik pertama merupakan penentu bagi audiens, apakah mereka akan melanjutkan menonton atau melanjutkan menonton konten yang lain.
Platform Konten
Berikut adalah contoh platform untuk membuat konten dan karakteristinya:
- Instagram: Visual kuat, storytelling singkat. Cocok untuk konten yang fun dan "berat"
- TikTok: Format cepat, fun, dan ringan
- LinkedIn: Profesional, cocok untuk B2B, dan employer branding.
- YouTube: Panjang, dapat memuat konten fun dan edukasi, bermain dengan visual resolusi tinggi, serta kualitas audio dan visual yang seimbang
- Blog/Website: SEO friendly, evergreen content, cocok konten yang bersifat awareness ataupun berorientasi konversi
- Spotify: Pastikan kekuatan terletak di suara content creator dan kualitas audio
Contoh Strategi Konten Sukes dari Brand Indonesia
1. Asimor
Asimor adalah brand suplemen untuk ibu menyusui. Keberhasilan brand ini adalah mampu mengoneksikan konten dengan kondisi emosional ibu menyusui.
Cara brand ini engage dengan audiens adalah dengan membuat konten yang mengutamakan storytelling dan edukasi pada ibu menyusui. Dengan begitu konten yang ditampilkan di Instagram menjadi relevan dengan audiens.
Selain itu, persona brand sebagai seorang "Ibu" yang sedang berbicara dengan ibu-ibu lainnya, menjadikan konten ini menarik secara personal untuk audiensnya.
2. Tenue de Attire
Brand fesyen ini cukup besar di media sosial TikTok. Kenapa?
Brand ini menyentuh sisi emosional audiensnya di TikTok yang kebanyakan merupakan anak muda dari generasi Y dan Z. Apa yang disukai dua generasi ini? Soal cinta-cintaan dan sesuatu yang lucu.
Jadi, Anda akan menemukan banyak konten mengenai content creator-nya yang berdandan sesuai dengan kriteria pasangan yang "diidamkan" followersnya.
Konten jenaka ini sukses memperkenalkan produk-produk fesyen mereka dengan cara yang fun.
3. Mitra Keluarga
Merancang konten kesehatan sedikit tricky karena topiknya cukup sensitif dan jika sampai salah, tentu kecaman dari publik akan menanti.
Di media sosial, Mitra Keluarga menampilkan edukasi-edukasi ringan sebagai bridging untuk memperkenalkan fasilitas-fasilitas medis yang dimilikinya.
Kemudian, di website, Anda tidak akan menemukan "sekadar edukasi kesehatan", tetapi artikel yang tayang merupakan edukasi terhadap pasien atau calon pasien yang sedang mencari pengobatan. Lalu, review dari dokter spesialis membantu meningkatkan otoritas SEO website Mitra Keluarga.
4. Grab
Sama dengan Tenue de Attire, Grab mengincar pasar dari generasi Y dan Z yang sering menggunakan jasa Grab Bike, Grab Car, dan Grab Food.
Maka dari itu, Grab mengenalkan fitur-fiturnya dengan cara yang lucu. Salah satunya adalah menunjuk Adam (suami Inul) sebagai modelnya.
Cara ini cukup efektif menarik perhatian dan engagement dari audiens.
Strategi Konten Harus Jangka Panjang
Konten tidak hanya sekadar soal frekuensi, tetapi relevansi dan konsitensi.
Strategi konten yang tepat, tidak hanya akan mengisi feed dan website Anda, tetapi menjadi wadah bagi Anda berinteraksi dengan audiens dan target pasar.
Di tengah ketatnya kompetisi brand, konten bukan lagi menjadi nilai plus untuk sebuah brand, melainkan keharusan.
Untuk merancang strategi ini, Anda tentu membutuhkan partner yang tepat dan berpengalaman.
Dalam hal ini, Creative Faith dapat menjadi mitra yang tepat untuk membantu Anda merancang strategi konten yang meningkatkan awareness dan engagement dengan target audiens.
Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

