Konten user-generated content (UGC) adalah jenis konten yang menunjukkan pengalaman atau opini dari konsumen.
Dalam beberapa waktu terakhir, jenis konten ini ramai digunakan banyak brand bukan tanpa alasan. Salah satunya, tidak lepas dari kepercayaan konsumen terhadap pengalaman sesama konsumen.
Jadi, konsumen lebih percaya terhadap apa yang dibicarakan oleh sesamanya dibanding oleh brand itu sendiri walau secara product knowledge, brand lebih memahami produknya.
Lalu, kenapa konsumen bisa tertarik pada konten UGC dan bagaimana strategi membuatnya? Kita bahas di artikel ini, ya!
Kenapa Konten UGC Penting?
Ada beberapa alasan kenapa konsumen atau audiens percaya pada UGC dan tidak jarang menjadi patokan dalam membuat keputusan pembelian. Di antaranya adalah sebagai berikut:
- Membawa bukti sosial
- Tampak organik dan otentik
- Mengandung informasi produk dari sudut pandang konsumen
- Dapat membangun empati audiens
Faktor-faktor di atas dapat meningkatkan peluang positif terhadap keputusan pembelian oleh konsumen yang lebih luas.
Prinsip Konten UGC
Berikut adalah prinsip yang harus Anda pegang saat merancang konten UGC:
- Otentik yang paling utama: Walau tidak estetik, keotentikan sebuah konten jadi lebih penting. Hal ini akan menggerakkan empati. Editing berlebihan justru akan membuat konten tampak seperti iklan
- Tentukan Tujuan: Tentukanlah dulu tujuan Anda dalam kampanye ini, apakah untuk awareness, konversi, atau loyalitas? Tujuan itu menentukan format UGC dan call-to-action.
- Hak & etika diatur: Ketika konten UGC tersebut milik sebuah akun, pastikan Anda mendapat consent dari yang bersangkutan dan jangan lupa berikan credit untuk mereka
Baca Juga: Merancang Strategi Konten Media Sosial yang Unik dan Tingkatkan Engagement
Strategi Membuat Konten UGC
.
1. Kurasi Informasi yang akan Dibagikan
Menurut Latin American Business and Sustainability Review, hanya konten UGC yang mengandung banyak informasi saja yang dapat berdampak pada keputusan konsumen.
Maka dari itu, Anda harus mengurasi jenis konten berdasarkan informasi atau pesan yang hendak disampaikan. Hindarilah asal-asalan dalam mengurasi konten UGC.
Salah dalam mengurasi, mungkin Anda hanya akan sekadar viral tanpa mendapat dampak apa pun dari konten tersebut.
2. Tentukan Tema yang Emosional
Ingat, konten UGC tidak bisa diperlakukan seperti konten iklan biasa. Tidak hanya mempromosikan, konten harus membawakan cerita yang akan membuat audiens yang luas merasa relevan dengan cerita pada konten tersebut.
Contoh:
- Tenangnya memilih popok A untuk si Kecil karena ga gampang rewel
- Senangnya staycation di Hotel X bersama pasangan
- Bangganya beli jersey Timnas Indonesia yang asli
3. Sederhana tapi Formula Konten Terpenuhi
Karena konten ini digunakan untuk kebutuhan marketing, maka Anda dapat menggunakan formula marketing sebagai patokan.
Pada prinsipnya, sebuah konten harus memenuhi formula standar, yaitu:
Konten = Masalah + Isi Konten + Solusi + CTA
Jadi, selama memenuhi unsur-unsur tersebut, walau pengambilan videonya tidak profesional, tetap akan “ngena” di benak audiens.
4. Format Konten
Format konten UGC bisa beragam. Anda bisa memilih berdasarkan selera dan kebutuhan kampanye Anda. Beberapa jenis konten yang dimaksud di antaranya adalah sebagai berikut:
- Testimoni
- Dokumentasi audiens saat menggunakan produk
- Dokumentasi reaksi positif orang-orang terhadap produk yang digunakan
- Cuplikan orang yang menyebut brand Anda dengan tone positif atau kocak (tanpa merendahkan kualitas produk Anda)
Sebagai catatan, keempat poin di atas hanya contoh. Karena kreativitas tidak ada batasnya, Anda bebas berkreasi, ya!
5. Permudah Audiens yang Mau Bikin Konten
Terkadang, audiens ragu untuk membuat konten tentang brand Anda. Kenapa?
Mungkin mereka takut mendapat kecaman atau hasilnya malah berdampak negatif.
Maka dari itu, Anda sebagai pemilik brand harus mempermudah audiens dengan cara membebaskan seluas-luasnya cara mereka berkreasi menggunakan produk atau brand Anda.
Lalu, menetapkan konten UGC ini sebagai sebuah kuis, pastikan proses pendaftarannya sederhana, supaya mereka lebih mudah tergerak untuk mengikuti kampanye Anda.
Baca Juga: Strategi Konten yang Tepat untuk Tingkatkan Awareness dan Engagement
6. Pantau Performa
Anda memiliki banyak alat analitik, misal Google Analytics atau Meta. Pantaulah performa dari konten UGC brand Anda.
Jika hasilnya memuaskan, Anda dapat melanjutkan membuat konten yang serupa. Namun jika gagal, segera evaluasi, titik mana yang menjadi kesalahan. Misalnya, apakah salah di narasi, editing, pemilihan creator, dan lain-lain.
Catat juga sentimen komentar untuk melihat apakah konten memancing empati positif.
Kolaborasi dengan Creative Faith
Konten UGC tidak sekadar membuat konten yang seolah-olah organik dibuat oleh masyarakat. Lebih dari itu, konten UGC harus mengundang empati audiens lebih luas untuk mendukung kesuksesan kampanye.
Konten UGC juga harus terintegrasi dengan kampanye pemasaran yang sedang berjalan. Jadi, memang membuat jenis konten ini harus dipikirkan secara masak dan membutuhkan strategi yang komprehensif.
Maka dari itu, Anda membutuhkan mitra strategis untuk riset lebih mendalam mengenai elemen-elemen kreatif yang dapat diangkat dalam kampanye pada konten UGC..
Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand dalam menciptakan berbagai strategi yang kuat untuk kebutuhan marketing, Creative Faith akan memikirkan semua sisi kreatif dan strategis untuk bisnis Anda.
Apakah brand Anda siap naik kelas?
Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

