Mengganti nama brand bukanlah sebuah keputusan bisnis kecil, melainkan sebuah keputusan besar yang akan menentukan arah bisnis itu sendiri.
Jika melihat berbagai contoh berbagai bisnis dalam skala dunia dan Indonesia, ada sejumlah brand yang berhasil setelah ganti nama dan ada juga yang kurang berhasil.
Ternyata, mengganti nama brand tidak hanya sekadar mengganti nama, tetapi juga ada strategi terukur di baliknya.
Bagaimana mengganti nama brand bisa berjalan baik? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Mengapa Perlu Mengganti Nama Brand
Tentu tidak semua brand perlu mengganti namanya untuk dapat menarik perhatian audiens.
Berikut adalah beberapa alasan kenapa sebuah brand harus mengganti namanya:
- Repositioning bisnis: untuk menyesuaikan bisnis dengan target pasar baru. Contoh: Facebook menjadi Metaverse, Backrub menjadi Google, KB Bukopin menjadi KB Bank, Persisam Putra Samarinda menjadi Bali United FC
- Masa hukum atau hak cipta: nama sudah terdaftar oleh pihak lain, masa kerja sama lisensi habis, dan lain-lain. Contoh: Ace Hardware menjadi Azko
- Citra negatif: sebuah brand mendapat citra negatif di tengah masyarakat. Contoh: Pilip Morris menjadi Altria
- Ekspansi internasional: jika nama brand sulit diucapkan oleh target pasar di negara tujuan, mengganti nama brand di negara tersebut bisa jadi pertimbangan utama
- Diversifikasi produk: jika nama lama terlalu identik dengan produk lama (terutama jika produknya tidak laku lagi), sebaiknya mengganti nama. Contoh: Go-Jek yang identik dengan ojek motor mengubah nama menjadi Gojek untuk mengembangkan pasar dan diversifikasi produk (Gocar, Goride, Gosend, dll).
Baca Juga: Merancang Strategi Brand Positioning yang Tepat dan Belajar dari Contoh Sukses
Strategi Ganti Nama Brand agar Tetap Dikenal
Supaya penggantian nama brand berjalan smooth dan berdampak positif pada bisnis, ada beberapa langkah yang harus dilewati. Hal ini perlu dilakukan agar penggantian nama benar-benar terukur.
Berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan.
1. Riset Mendalam
Sebuah nama brand dapat berdampak positif pada bisnis jika memenuhi unsur berikut:
- Mudah diingat
- Mudah dilafalkan oleh target pasar
- Relevan dengan visi dan misi brand
- Menggambarkan produk-produk yang dijual
Setelah mendapat nama, periksalah kembali, apakah nama tersebut sudah digunakan brand lain atau belum.
2. Uji Publik dan Audiens
Anda harus objektif dalam mengganti nama brand. Salah satu cara supaya objektif adalah dengan melakukan survei kepada konsumen lama atau target pasar yang baru.
Dalam survei, pastikan cek kesan, asosiasi, potensi bagi audiens untuk melakukan transaksi setelah melihat nama baru, dan potensi salah tafsir dari nama baru.
3. Siapkan Strategi Komunikasi
Anda harus mulai membangun komunikasi dengan audiens dari awal.
Tetapkanlah brand messaging dan tone of voice yang tepat supaya pesan Anda dalam mensosialisasikan nama baru ini berjalan baik.
Anda juga bisa mempublikasikan alasan perubahan nama agar konsumen memahami. Untuk ini, Anda dapat melakukannya melalui media sosial dan SEO.
Lalu, supaya perubahan nama brand teramplifikasi lebih luas, undanglah media untuk meliput brand Anda, termasuk edukasi produk dan peluncuran nama baru.
4. Transisi yang Halus
Supaya audiens tidak kaget, terapkanlah transisi yang halus di periode awal penggantian nama brand. Misalnya, dalam komunikasi di berbagai platform, Anda bisa menggunakan format "[Nama Lama] (sekarang: [Nama Baru])" atau [Nama Baru] (dulu: [Nama Lama]).
Lakukan ini di semua platform, termasuk website, media sosial, dan bisnis.
Setelah penggantian nama dilakukan dalam waktu beberapa bulan, hapuslah penggunaan nama lama selama-lamanya.
5. Bangun Kampanye Branding dan Pemasaran dari Awal
Untuk membangun awareness di kalangan audiens dan konsumen lama, bangunlah kampanye dari awal lagi.
Anda bisa melakukan aktivasi rebranding dengan beriklan, mengundang media, mengikuti event-event, dan rutin mengunggah konten di platform digital.
Tujuannya, agar masyarakat terbiasa mendengar nama baru Anda.
Selain itu, pastikan identitas visual tidak hanya menarik, tetapi mudah diingat dan ditampilkan secara konsisten.
6. Membuat Cerita
Cerita selalu menarik untuk audiens. Maka dari itu, bangunlah cerita yang dapat menyentuh emosi audiens.
Hal ini dilakukan agar penggantian nama lebih mudah diterima dan meningkatkan engagement audiens.
Baca Juga: Strategi Konten yang Tepat untuk Tingkatkan Awareness dan Engagement
Pertimbangan sebelum Ganti Nama Brand
Karena mengganti nama brand bukanlah hal yang sepele, Anda harus memikirkannya secara matang. Berikut adalah beberapa pertimbangan yang bisa Anda pikirkan sebelum mengganti nama brand:
- Biaya Rebranding: desain ulang logo, kemasan, domain website, legalitas, promosi.
- Risiko Kehilangan Brand Equity: konsumen mungkin bingung atau kehilangan kepercayaan.
- Posisi Kompetitor: apakah nama baru bisa lebih kuat dibanding kompetitor?
- Tujuan Jangka Panjang: apakah nama baru menjadi lebih sederhana untuk publik atau memiliki tujuan lainnya
- Sentimen konsumen: jangan berfokus pada apa yang ingin Anda sampaikan, tetapi apa yang konsumen katakan tentang brand
- Birokrasi hukum: pastikan bahwa Anda mengetahui konsekuensi penggantian nama secara hukum
Dasar Hukum Ganti Nama Brand
Supaya Anda bisa mengganti nama brand, perhatikanlah Pasal (40) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Dalam UU tersebut, disebutkan bahwa setiap merek yang hendak mengganti merek, harus mendaftarkan ulang mereknya.
Lebih lanjut, perubahan nama mereka atau brand diatur dalam Pasal 4 UU Merek dan Pasal 3 Permenkumham 67/2016 tentang Pendaftaran Merek.
Lengkapilah persyaratan administratif untuk perubahan nama seperti yang tercantum dalam peraturan tersebut, misalnya bukti perubahan nama, fotokopi identitas pemohon, fotokopi bukti sertifikat merek yang terdaftar, bukti pembayaran, dan lain-lain.
Contoh Sukses Ganti Nama Brand
Berikut adalah beberapa contoh brand yang berhasil mengganti nama brand.
1. Tokobagus Menjadi OLX
Tokobagus, sebuah marketplace lokal yang kemudian diakuisisi oleh OLX Group. Kini OLX dikenal sebagai salah satu marketplace terbesar tempat orang mencari mobil dan properti. Meski melayani penjualan produk di luar mobil dan properti, positioning OLX kini lebih dikenal sebagai marketplace jual beli mobil dan properti.
2. Go-Jek Menjadi Gojek
Semula, Go-Jek identik dengan ojek sepeda motor. Seiring perkembangan bisnis, Go-Jek mengubah namanya menjadi Gojek dan memperluas diversifikasi produk. Kini Anda pun pasti mengenal layanan Goride, Gocar, Gosend, Gomart, Gofood, dan lain-lain.
3. Ace Hardware Menjadi Azko
Kalau perubahan nama brand satu ini dikarenakan PT Aspirasi Hidup Indonesia tidak memperpanjang kerja sama perjanjian lisensi dengan ACE Hardware International Holdings, Ltd. Akhirnya PT AHI harus menggunakan nama lain jika ingin beroperasi.
Meski berisiko besar karena dalam benak konsumen sudah melekat nama Ace Hardware, akhirnya melalui berbagai kampanye rebranding, nama Azko mulai diterima oleh masyarakat.
Kolaborasi dengan Creative Faith
Proses penggantian nama memang bukan proses yang sepele, melainkan aspek strategis yang dapat berdampak langsung pada bisnis.
Maka dari pertimbangan harus dilakukan secara objektif dan memikirkan banyak faktor.
Apabila Anda sedang mempertimbangkan mengganti nama brand sebagai bagian dari rebranding, Creative Faith dapat menjadi mitra strategis Anda.
Sebagai strategic marketing agency, Creative Faith akan membantu Anda memikirkan strategi yang tepat agar perubahan nama menarik perhatian target pasar yang tepat dan berkontribusi pada penjualan di masa mendatang.
Apakah brand Anda siap naik kelas dengan rebranding nama baru?

