creativefaith logo

9 Strategi Branding Unik untuk Brand Baru. Narasi Jadi Kunci Utama!

DATE
20 August 2025
READING TIME
4 mins
strategi brand baru

Memulai bisnis dengan brand baru memang tidak mudah. Banyak brand yang gagal di tahun pertama karena gagal membuat positioning di pasar.

 

Hal ini bisa terjadi karena tidak ada strategi branding atau menerapkan strategi yang salah sehingga tidak terarah.

 

Apakah Anda sedang membangun brand baru?

 

Mumpung masih di tahap awal, yuk, simak tips dan strategi untuk membangun brand baru seperti berikut ini!

 

Strategi Branding yang Unik untuk Brand Baru

Berdasarkan studi Nielsen, sebagian besar orang akan memilih membeli produk dari brand yang familiar dengan mereka dibanding membeli produk dari sebuah brand yang benar-benar baru atau asing di telinga.

 

Maka dari itu, target dari strategi branding untuk brand baru adalah membuat brand Anda familiar di telinga konsumen. Berikut adalah tips-tips yang bisa diterapkan.

 

1. Buat Narasi Asal-usul yang Mengikat Emosi

 

Salah satu kesalahan sebuah brand yang baru muncul adalah terlalu fokus pada logo dan warna. Padahal, yang sering dilupakan adalah audiens tidak terlalu peduli dengan hal-hal tersebut.

 

Salah satu hal paling penting adalah membangun story telling yang kuat agar terikat dengan emosi audiens. Jika emosi sudah terikat, audiens pun akan lebih mudah jatuh cinta dengan brand Anda.

 

Anda bisa mulai dengan menceritakan cita-cita Anda sehingga brand ini terbentuk atau ide unik Anda yang relevan dengan emosi audiens.

 

Contoh:

Tropicana Slim yang membangun brand sebagai solusi untuk yang khawatir dengan penyakit diabetes tetapi masih ingin merasakan manis

 

2. Membangun DNA Brand

Setelah membangun narasi asal-usul, buatlah DNA brand yang menjadi ideologi atau identitas sebuah brand.

 

Brand DNA di antaranya mencakup:

  • Purpose: artinya tujuan dari brand ini ada
  • Personality: artinya gaya komunikasi seperti apa yang ditunjukkan (serius, senang bercanda, kasual, gaul, dan lain-lain)
  • Promise: artinya janji apa yang diberikan brand kepada konsumennya
  • Positioning: artinya bagaimana brand Anda menempatkan diri di pasar

 

Catatlah unsur-unsur di atas sebelum maju ke pembahasan mengenai visual.

 

3. Memilih Pasar Mikro

Memang semakin luas pasar, semakin besar pula kemungkinan untuk mendapat transaksi dan cuan.

 

Namun, brand baru akan sulit menembus pasar yang sangat luas. Dengan begitu, cobalah cari pasar yang spesifik tetapi mereka bisa loyal pada brand Anda.

 

Anda bisa melakukan pendekatan ke komunitas-komunitas yang memiliki kemungkinan menggunakan produk dari brand Anda.

 

Contoh:

  • Brand sepeda bisa mencoba melakukan pendekatan ke komunitas-komunitas sepeda
  • Brand F&B semisal kafe atau resto, bisa bekerja sama dengan komunitas-komunitas musik untuk menggelar gigs di tempat Anda
  • Brand sepatu sepakbola, bisa berkolaborasi dengan komunitas fun football

Baca Juga: Merancang Brand Personality yang Unik dan Relevan, Lengkap dengan Contoh Suksesnya

 

4. Bangun Brand Voice

Brand voice menjadi penentu bagaimana cara Anda berbicara dengan konsumen.

 

Untuk membuat brand voice, Anda bisa coba tips berikut:

 

  • Tentukan tone-nya, apakah santai, tegas, berani, lembut, dan lain-lain
  • Buat karakternya, apakah jenaka, cerdas, asyik, dan lain-lain
  • Buat pilar konten agar pesan yang disampaikan pada semua platform selalu konsisten
  • Buatlah daftar kata yang boleh dan tidak boleh digunakan (contoh: alih-alih menggunakan kata "maaf menunggu lama...", diganti menjadi "Wah, terima kasih ya sudah menunggu...")

 

5. Terapkan "Value First" Marketing

Pada prinsipnya, konsumen tidak akan membeli sebuah produk dari brand apa pun jika mereka belum percaya pada brand tersebut.

 

Lalu, apa yang bisa Anda lakukan untuk membuat mereka percaya?

 

Jawabannya, sebarkanlah nilai-nilai yang Anda percaya dan relevan dengan konsumen.

 

Contoh:

  • Brand di industri kesehatan dapat membuat konten-konten edukasi kesehatan tanpa harus berjualan terlebih dulu
  • Brand dengan target pasar anak muda, dapat membuat konten yang menghibur anak muda
  • Jika Anda di industri pelayanan, dapat memberikan konsultasi gratis singkat
  • Dalam kampanye pemasaran, gunakanlah strategi soft selling

 

6. Strategi Memilih Influencer

Siapa sih yang tidak mau berkolaborasi dengan artis-artis seperti Raffi Ahmad, Surya Insomnia, Wendy Cagur, dan lain-lain, yang seperti Anda tahu, memiliki jutaan followers?

 

Namun, sebagai brand baru, bekerja sama dengan influencer makro tidak akan efektif. Pasalnya mereka memiliki audiens yang sangat luas dan belum tentu percaya pada brand Anda.

 

Untuk brand baru, lebih efektif menggunakan influencer mikro dengan followers di bawah 50 ribu.

 

Kenapa?

  • Memiliki target yang lebih spesifik dari perilaku audiens, demografi, atau jenis kontennya
  • Engagement lebih tinggi
  • Pesan lebih personal karena biasanya hubungan followers cukup dekat

 

7. Sederhana tapi Memorable

 

Ketika membangun brand, tentu kita akan memikirkan mimpi-mimpi besar. Hal inilah yang kemudian akan memengaruhi pesan yang dibawa dalam kampanye branding dan marketing.

 

Padahal, yang paling penting adalah bukan seberapa keren pesannya, tetapi bagaimana pesan yang dibawa oleh brand cukup sederhana sehingga dapat diingat oleh audiens.

 

Contoh:

  • Gojek dengan pesan "Pasti ada jalan"
  • Pinhome dengan "Find your way home"
  • Teh Botol dengan "Apa pun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro"

 

8. Manfaatkan Event dengan Pengalaman Unik

 

Saat menyewa sebuah lapak di suatu event, jangan hanya sekadar membuat booth promosi.

 

Pastikanlah Anda menciptakan pengalaman berkesan untuk calon konsumen.

 

Contoh:

  • Membuat games yang berhubungan dengan produk Anda
  • Aktivasi dengan menyediakan doorprize untuk pengunjung
  • Trial produk gratis
  • Cek kesehatan gratis (untuk brand industri kesehatan)
  • Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan pengunjung (contoh: Aqua menyediakan shuttle di Stadion Gelora Bung Karno untuk mengantar penonton dari gerbang ke depan stadion)

 

9. Pantau Kemajuan dari Kampanye Branding

 

Ada beberapa cara untuk mengukur keberhasilan sebuah kampanye branding:

  • Anda bisa melakukan survei kepuasan audiens setiap 3-6 bulan sekali
  • Analisis sentimen brand di media sosial, sekalian cek apakah sebagian besar audiens di media sosial merupakan target pasar atau bukan
  • Jika kampanye terlihat tidak efektif, lakukanlah penyegaran tanpa mengubah esensi atau nilai yang dibangun

 

Kolaborasi dengan Creative Faith

 

Apabila Anda sedang membangun brand baru, pastikan memiliki tim yang mumpuni yang terdiri dari marketer, copywriter, dan tenaga kreatif.

 

Jika belum memilikinya, Anda tidak perlu khawatir karena Creative Faith dapat menjadi mitra Anda untuk memikirkan semua hal tersebut.

 

Creative Faith dapat membantu Anda merancang strategi membangun brand baru hingga lebih dikenal publik. 

 

Anda tidak perlu khawatir, karena hal ini bukanlah sebuah pekerjaan baru bagi Creative Faith. Portofolio Creative Faith sudah menunjukkan keberhasilan dari sejumlah kampanye branding yang dilakukan oleh berbagai brand.

 

Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

 

AUTHOR
Admin