creativefaith logo

Mengenal Cara Membuat Storytelling Marketing yang Kuat dan Lebih Dekat dengan Audiens

DATE
05 September 2025
READING TIME
5 mins
storytelling marketing

Salah satu cara untuk membuat audiens melihat tayangan, baik itu iklan, penawaran, atau konten dalam waktu lama adalah dengan bercerita.

 

Cerita akan menuntun audiens mengikuti kisah yang Anda buat hingga akhirnya, secara tanpa sadar, audiens akan mendengarkan pesan inti Anda.

 

Nah, ini merupakan strategi marketing dengan gaya bercerita atau storytelling marketing. Apa itu storytelling marketing dan bagaimana cara menerapkannya? Simak selengkapnya di artikel ini, ya!

 

Memahami Storytelling Marketing

 

Storytelling marketing adalah strategi pemasaran dengan menggunakan cerita yang membangun emosional untuk menyampaikan pesan brand, membangun kedekatan dengan audiens, dan mempermudah orang mengingat sebuah produk atau layanan.

 

Cara ini cukup efektif untuk memperkenalkan sebuah produk atau jasa dibandingkan hanya menampilkan harga dan rentetan fitur.

 

Kenapa hal ini bisa efektif?

 

Pada dasarnya, audiens tidak membutuhkan hal-hal yang terlalu teknis. Audiens hanya perlu tahu, apakah produk Anda berguna dalam kehidupannya atau tidak.

 

Untuk relevan dengan kehidupan seseorang, diperlukan sebuah cerita yang dapat menuntun audiens hingga akhirnya pesan brand tersampaikan.

 

Sebagai contoh, saat memasarkan smartphone, alih-alih menyampaikan mengenai kapasitas memori, resolusi kamera, besaran RAM, dan lain-lain, lebih baik ceritakan bagaimana smartphone tersebut membantu hidup audiens. Bangunlah cerita bahwa smartphone tersebut mempercepat pekerjaan, membuat lebih percaya diri untuk eksis di media sosial, atau dapat membuat kamu main games tanpa ngelag.

 

Cerita seperti ini lebih mudah dicerna, lebih dipercaya, dan meninggalkan kesan yang kuat.

Manfaat Storytelling Marketing

 

Storytelling yang kuat akan membangun koneksi emosional, brand awareness, meningkatkan kepercayaan, meningkatkan engagement, dan membedakan brand Anda dari kompetitor.

 

1. Membangun Koneksi Emosional

 

Cerita yang menyentuh akan membuat audiens merasa terhubung lebih dekat dengan brand dan melihat brand Anda sebagai sosok yang peduli (contoh: iklan sirup saat bulan Puasa).

 

Sementara, cerita yang lucu akan membuat brand Anda terasa menjadi lebih relevan (contoh: iklan Grab yang menampilkan Mas Adam, suami Inul, sebagai bintangnya)

 

2. Meningkatkan Brand Awareness

Orang akan lebih mudah mengingat brand Anda dengan cerita dibandingkan hanya sekadar klaim fitur, angka, dan lain-lain.

 

3. Meningkatkan Kepercayaan

Kenapa audiens jadi lebih percaya? Hal ini tidak lepas dari relevansi cerita yang masuk ke dalam hidup audiens.

 

4. Berbeda dari Kompetitor

Produk mungkin bisa sama, tetapi cerita dapat menjadi pembedanya. Cerita yang memorable juga akan memperkuat brand positioning Anda. 

 

Contoh, iklan Telkomsel yang kerap menampilkan cerita seorang perantau yang menelepon ibunya yang jauh di kampung. Hal ini menggambarkan bahwa Telkomsel dapat menjangkau hingga pelosok Indonesia. Brand positioning sebagai operator seluler dengan jaringan terluas se-Indonesia, akan semakin kuat.

 

5. Meningkatkan Engagement

Sebuah cerita akan memancing reaksi dari audiens. Inilah kesempatan untuk meningkatkan engagement, baik dari sharing, komentar, dan lain-lain.

 

Baca Juga: Strategi Konten yang Tepat untuk Tingkatkan Awareness dan Engagement

 

Elemen dalam Storytelling Marketing

Untuk membuat cerita yang kuat, Anda tidak boleh melewatkan berbagai eleman dan faktornya. Berikut di antaranya:

 

1. Tokoh Utama

Karakter ini akan membawa audiens mengikuti jalan cerita. Tokoh utama bisa berupa konsumen, pedagang, tim di balik produk, dan lain-lain.

 

2. Konflik

Salah satu yang membuat audiens ingin menyimak cerita adalah ada konflik yang disajikan. Konflik ini pula yang harus diselesaikan oleh tokoh utama.

 

Inti dari adanya konflik adalah menyampaikan pesan bahwa brand Anda dapat menyelesaikan permasalahan dalam hidup konsumen.

 

Jadi, carilah konflik yang relevan dengan audiens Anda agar mereka merasa dekat dengan brand Anda.

 

3. Perjalanan Tokoh Utama

Tidak hanya solusi yang harus Anda pikirkan, tetapi juga bagaimana perjalanan tokoh utama menemukan solusi tersebut.

 

Elemen ini juga dapat menjadi kesempatan untuk Anda membangun emosi audiens.

 

4. Solusi

Setelah perjalanan, barulah Anda memberikan solusi. Di bagian ini, Anda dapat menampilkan brand Anda sebagai solusi permasalahan yang audiens alami dalam kehidupannya.

 

5. Brand Message

Di akhir cerita, Anda dapat menyampaikan pesan brand yang tidak hanya sekadar solusi.

 

Pesan brand tersebut dapat berupa identitas brand, brand positioning, atau bagaimana brand selalu berusaha menjangkau audiensnya.

 

Cara dan Strategi Membuat Storytelling Marketing

Untuk menerapkan storytelling marketing, tidak bisa sembarangan dan mengandalkan asumsi. Berikut adalah cara yang benar untuk membangun storytelling marketing.

 

1. Mengenal Audiens secara Mendalam

Pahamilah apa yang audiens butuhkan, apa kendala mereka dalam memenuhi kebutuhan tersebut, dan bagaimana gaya berkomunikasi mereka.

 

Pasalnya, ini akan sangat berkaitan dengan cerita apa yang akan Anda angkat dan bagaimana gaya pembawaannya.

 

2. Harus Otentik

Berdiskusilah dengan tim untuk mencari nilai otentik dari brand. Hal ini bisa dari cerita dari bagaimana terbentuknya produk Anda, tentang pendiri, konsumen, dan lain-lain.

 

Nilai-nilai otentik ini akan menjadi pembeda Anda dengan kompetitor.

 

3. Sederhana tapi Jelas

Hindari berpikir secara rumit untuk membuat sebuah alur cerita layaknya film Hollywood. Anda cukup memikirkan setup-konflik-resolusi.

 

  • Setup, bagaimana cerita dibangun
  • Konflik, masalah yang dihadapi oleh tokoh utama
  • Resolusi, bagaimana brand Anda memecahkan masalah dalam kehidupan tokoh utama

 

4. Perkuat Emosi

Pastikanlah masalah yang dihadapi dari rangkaian cerita ini merupakan masalah yang memang dihadapi audiens di dunia nyata.

 

Lalu, gunakan narasi yang tepat, baik itu menyentuh atau jenaka, untuk menarik perhatian audiens.

 

5. Pilih Media yang Tepat

Jangan asal unggah konten tanpa mengetahui platform yang tepat. 

 

Misalnya, untuk mengunggah konten seperti film pendek, Youtube adalah platform yang tepat. Namun, jika bentuknya adalah konten pendek, TikTok atau Instagram Reels lebih cocok. Kemudian, untuk menceritakan secara mendalam lewat tulisan, blog adalah platform yang tepat.

 

6. Perkuat Visual

 

Di era digital ini, orang sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan visual, termasuk video, foto, dan animasi.

 

Perkuatlah visual agar audiens tetap betah menyaksikan cerita Anda.

 

7. Akhiri dengan Pesan Brand

Setelah audiens terbawa emosi, arahkan mereka untuk melakukan sesuatu, yaitu membeli, mendaftar, atau sekadar membagikan cerita.

 

Kolaborasi dengan Creative Faith

Membangun cerita untuk kebutuhan marketing memang tidak mudah. Dibutuhkan riset yang mendalam dan daya pikir kreatif untuk menciptakan sebuah cerita yang berkesan.

 

Hal ini tentu akan memakan waktu yang panjang. 

 

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, Creative Faith dapat menjadi mitra strategis untuk masalah pemasaran Anda.

 

Dengan serangkaian portofolio, Creative Faith siap membantu brand Anda naik kelas dengan menyiapkan strategi storytelling marketing yang tepat.

 

Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

 

 

AUTHOR
Admin