creativefaith logo

Strategi Konten Humanis, Pikat Lebih Banyak Audiens

DATE
19 November 2025
READING TIME
5 mins
strategi konten humanis

Di jaman sekarang, konten yang kelihatan jualan sudah tidak laku lagi!

 

Coba deh, buktikan, konten yang terlalu jualan banget biasanya memiliki bounce rate yang tinggi atau retensi yang rendah.

 

Artinya, konten tersebut jarang dilihat sampai selesai. Kenapa bisa begitu?

 

Pada prinsipnya, sebuah konten harus membuat audiens merasa relevan dan simpati. Berkomunikasilah layaknya teman.

 

Ketika Anda mendapat hati audiens, tanpa disuruh pun, mereka akan membeli produk Anda.

 

Lalu, bagaimana cara membuat audiens bersimpati dengan brand? Salah satu caranya adalah membuat konten dengan pendekatan humanis.

 

Anda ingin tahu tipsnya? Yuk, simak artikel ini sampai selesai!

 

Alasan Konten Harus Dirancang dengan Pendekatan Humanis

 

Setidaknya, ada tiga alasan kuat untuk marketer membuat konten dengan pendekatan yang lebih humanis. Di antaranya adalah sebagai berikut:

 

1. Meningkatkan Kepercayaan

Konten yang lebih humanis akan mengundang empati. Di sinilah awal mula dari kepercayaan audiens dimulai.

 

2. Meningkatkan Engagement

Audiens menyukai tayangan yang melibatkan emosi mereka. Di sinilah Anda akan mendapat banyak reaksi, termasuk likes dan komentar.

 

3. Disukai Algoritma

Bayangkan saja, pada konten dengan pendekatan humanis yang melibatkan emosi, audiens rela menonton atau membacanya sampai habis. Artinya, video ini memiliki retensi tinggi. Ini merupakan salah satu faktor algoritma akan menyebarkan kontennya.

 

Belum lagi, jika konten tersebut mendapat likes dan komentar, penyebarannya pun akan makin masif.

 

Baca Juga: Merancang Strategi Konten Media Sosial yang Unik dan Tingkatkan Engagement

 

Strategi Konten dengan Pendekatan Humanis yang Disukai Audiens

1. Melibatkan Keluarga

Menurut studi Journal of Consumer Research, konten yang melibatkan keluarga atau relevan dengan keluarga audiens, lebih banyak disukai dibandingkan konten jualan.

 

Strategi ini sangat cocok untuk Anda yang akan bekerja sama dengan influencer. Jika sang influencer menampilkan dirinya dan keluarga, peluang untuk mendapat reach, views, hingga engagement pun akan semakin besar.

 

Namun dengan catatan, kualitas kontennya juga harus bagus, ya!

 

2. Storytelling

Supaya lebih relevan dan membuat audiens betah melihat konten Anda, gunakanlah teknik storytelling untuk memicu hubungan emosi antara Anda dengan audiens.

 

Salah satu rumus storytelling yang sering dipakai adalah daripada memberi tahu fitur produk, beri tahulah audiens mengenai apa yang bisa mereka lakukan dengan fitur tersebut.

 

Kekuatan narasi menjadi kunci storytelling.

 

Contoh:

Anda memiliki produk pomade. Jika menggunakan pendekatan storytelling, sebaiknya Anda menghindari pesan yang memuat soal bahan pomade, bentuk rambut seperti apa yang bisa dibuat dengan pomade ini, dan daya tahannya. Soalnya hal-hal tersebut sudah terpampang jelas pada kemasan.

 

Alternatifnya, Anda bisa bilang "Pomade ini bisa membuat Anda sekeren Jefri Nichol dari pagi sampai malam."

 

3. Tampilkan Sisi Manusia dari Brand

Buatlah citra brand Anda semanusia mungkin. Misalnya, Anda bisa menonjolkan orang-orang di balik brand yang bekerja sepenuh hati untuk menghasilkan produk terbaik.

 

Orang-orang tersebut bisa mencakup pemilik bisnis, pekerja, orang yang menjajakan produk Anda, dan lain-lain.

 

Contoh:

Gojek yang selalu menampilkan para driver yang berjuang tidak kenal lelah mengantar pelanggannya dan bekerja keras demi keluarga.

 

Iklan-iklan tersebut menumbuhkan empati di kalangan masyarakat pada para driver. Dengan sendirinya, audiens pun loyal pada brand tersebut.

 

4. Sesuaikan Bahasa dengan Audiens

Sesuaikanlah pada siapa Anda berbicara dan hindari kesan menggurui.

 

Jika berbicara di platform Instagram dan TikTok, gunakan intonasi seperti berbicara dengan teman atau kerabat dekat.

 

Lalu, jika berbicara di LinkedIn, gunakan bahasa profesional seperti ke rekan kerja atau rekan bisnis. Sedikit kasual tidak apa-apa tetapi tetap profesional, ya!

 

5. Interaksi dengan Audiens

Konten video atau artikel juga bisa dibuat seolah-olah sedang berinteraksi dengan audiens.

 

Hal ini dimaksudkan agar audiens merasa menjadi bagian dari brand tersebut.

 

Cara yang umum dilakukan di antaranya adalah dengan mengatakan hal-hal berikut:

  • Menanyakan pengalaman audiens
  • Minta opini audiens
  • Buat polling
  • Ajak audiens sharing pengalaman

 

Pendekatan partisipatif akan meningkatkan peluang engagement, lo!

 

6. Bangun Empati lewat Masalah Audiens

Sekali lagi, poin ini juga tentang bagaimana sebuah konten menjadi relevan dengan audiens.

 

Sebuah konten harus merasakan apa yang dialami audiens. Misal, bagaimana ketakutan, kekhawatiran, rasa penasaran, frustasi, dan aspirasi dari audiens.

 

Berawal dari empati, audiens Anda akan loyal dalam jangka waktu panjang.

 

7. Visual yang Realistis

Dalam membuat konten yang humanis, hindarilah menggunakan efek-efek "terlalu canggih". Justru, audiens lebih menyukai visual yang sederhana tetapi bermakna.

 

Hal yang dipertimbangkan di antaranya:

  • Colouring
  • Angle konten menyorot pada emosi manusia
  • Sinkron dengan alur cerita

 

Contoh:

Iklan sirup Marijan di Bulan Ramadan, menampilkan colouring yang lembut yang menggambarkan suasana kehangatan di tengah keluarga.

 

Pace dari pergantian visual pun selaras dengan alur cerita.

 

8. Terapkan ke UX dan Copywriting Website

Konten humanis tidak berhenti di media sosial. Website juga harus terasa dekat dan empatik.

 

Beberapa teknik yang bisa diikuti di antaranya:

  • Microcopy yang memberikan jaminan keamanan (“Tenang, data kamu aman kok”)
  • CTA humanis (“Yuk mulai, pelan-pelan aja”)
  • Copy produk yang fokus pada dampak, bukan fitur
  • Testimonial yang ditulis seperti cerita, bukan sekadar endorsement

 

Baca Juga: Strategi UX untuk Tingkatkan Performa Marketing: Desain, Copy, dan Semua Kanal Digital

 

Checklist Konten dengan Pendekatan Humanis

Sebelum mempublikasikan konten, pastikan mencentang daftar ini:

 

  • Konten terasa empati
  • Bahasa natural dan tidak kaku
  • Mendorong kedekatan emosional dengan audiens
  • Cerita relevan dengan permasalahan audiens
  • Fokus pada manfaat untuk manusia, bukan menyorot fitur
  • Visual otentik
  • Terdapat interaksi dengan audiens

Lalu, terapkan intonasi yang menunjukkan keakraban dengan audiens.

 

 

Kolaborasi dengan Creative Faith

Memikirkan psikologi calon konsumen merupakan bagian dari pendekatan pada konsumen. Tujuannya, agar mereka selalu ingat brand Anda ketika akan membeli sesuatu yang mereka butuhkan.

 

Merancang strategi konten dengan pendekatan humanis memang tidak bisa diciptakan dalam waktu semalam saja dan sekadar mengikuti tren di media sosial yang FYP atau trending. Diperlukan kajian mendalam dari tujuan bisnis hingga pengalaman yang harus didapat oleh audiens.

 

Maka dari itu, Anda membutuhkan mitra strategis untuk merancang strategi konten yang relevan dalam mencapai tujuan dari marketing dan bisnis. Creative Faith dapat menjawab kebutuhan brand Anda tersebut.

 

Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand untuk menciptakan berbagai strategi yang kuat untuk kebutuhan marketing, Creative Faith akan memikirkan semuanya dari awal sampai akhir untuk Anda.

 

Apakah brand Anda siap naik kelas?

 

Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

AUTHOR
Admin