creativefaith logo

10 Kesalahan Segmentasi Pasar dalam Bisnis dan Cara Cepat Memperbaiknya

DATE
02 February 2026
READING TIME
5 mins
kesalahan segmentasi pasar

Salah satu hal fundamental dalam bisnis adalah memisahkan pasar yang tidak berpotensi menjadi pembeli dan pasar yang berpotensi membeli produk Anda.

 

Dalam situasi inilah, Anda membutuhkan segmentasi pasar. Segmentasi pasar adalah strategi pemasaran untuk membagi target pasar yang sangat luas menjadi kelompok yang lebih kecil, homogen, dan memiliki kesamaan karakteristik.

 

Semua pelaku bisnis pasti mengenal istilah ini. Namun sayangnya, banyak di antara mereka yang kerap salah dalam melakukan segmentasi pasar.

 

Apa saja kesalahan yang umum terjadi saat melakukan segmentasi pasar? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

 

Kesalahan Segmentasi Pasar dan Cara Mengatasinya

Secara umum, kesalahan segmentasi pasar dalam bisnis adalah sering tidak menentukan tujuan, ingin “menghajar” semua target market, melakukan segmentasi berdasarkan insting, menggunakan data yang usang, hanya menggunakan demografi, tidak cepat tanggap perilaku pasar, mengejar target pasar yang tidak sesuai strategi bisnis, segmentasi yang terlalu kecil, tidak mempertimbangkan nilai konsumen, dan tidak ada evaluasi keberhasilan atau kegagalan segmentasi.

 

Berikut adalah penjelasannya.

1. Tidak Menentukan Tujuan dari Awal

Salah satu kesalahan dalam bisnis adalah menggunakan prinsip “jalan dulu aja deh!” Hal ini akan membuat Anda berjalan tanpa arah dan jadi tidak tahu apa yang diinginkan.

 

Solusi:

Sejak awal, Anda harus menentukan tujuan Anda. Misalnya menjual 100 produk per bulan, menemukan 5 klien loyal, konversi 5% dari total traffic, dan lain-lain.

 

2. Ingin “Menghajar” Semua Target Pasar

Ini yang bikin target jadi terlalu luas, sehingga campaign menjadi tidak jelas arahnya. Masalahnya, masyarakat yang membutuhkan produk seperti yang Anda jual sangat banyak. Lalu, kompetitor pun banyak. Dari banyak orang itu, pasti mereka akan memilih produk yang paling cocok atau relevan dengan mereka.

 

Solusi:

Lakukanlah profiling lebih detail terhadap target pasar yang ingin Anda kejar. Lalu, modifikasi produk dan cara Anda memasarkan, sehingga produk sesuai dengan kebutuhan target pasar yang ingin Anda kejar.

 

3. Segmentasi Berdasarkan Insting

Dalam bisnis, insting memang penting, tetapi tidak setiap saat pembuatan keputusan, Anda menggunakan insting. Insting hanya perlu digunakan untuk memicu lahirnya ide, bukan pengambilan keputusan, terutama dalam segmentasi pasar.

 

Penggunaan insting dalam segmentasi pasar malah akan menjebak Anda pada asumsi yang salah arah.

 

Solusi:

Sebelum membuat keputusan, analisislah data yang Anda miliki. Datanya bisa berasal dari sumber primer, misalnya survei atau wawancara calon konsumen. Bisa juga analisis data yang Anda punya dari Google Analytics atau audiens media sosial Anda.

 

Selain itu, alternatif lainnya, bisa juga dari sumber sekunder, misalnya bank data lembaga 1. survei atau penelitian orang lain.

 

4. Menggunakan Data Usang

Memang betul, Anda harus menggunakan data, tetapi pastikan data tersebut relevan dengan kondisi sekarang. Bisa jadi data tersebut memang sangat tepat digunakan untuk menyasar target pasar yang membutuhkan produk Anda. 

 

Namun, jika ternyata data itu terakhir kali diperbarui belasan tahun lalu, ya tetap hasilnya tidak akan optimal.

 

Solusi:

Perbarui data dengan survei ulang atau wawancara ulang calon konsumen.

 

Baca Juga: Strategi Memanfaatkan Perilaku Konsumen yang Efektif supaya Bisnis Bertumbuh

 

5. Menargetkan Pasar hanya dari Demografi

Demografi target pasar memang sangat penting. Namun, itu bukan faktor tunggal. Demografi hanya mencerminkan ciri-ciri umum target pasar Anda.

 

Solusi:

Profiling target konsumen berdasarkan psikografis, perilaku, atau kebutuhan emosional pelanggan.

 

6. Tidak Cepat Menangkap Perilaku Pasar

Jika profiling target konsumen sudah menggunakan data yang tepat tetapi konsumen cenderung tidak bertambah atau malah berkurang, Anda harus memperbarui informasi yang Anda miliki.

 

Hal ini terjadi karena era digital membuat sebuah tren berganti sangat cepat.

 

Solusi:

Cobalah cari insight mengenai tren yang sedang terjadi di pasar. Kemudian, ambil momentumnya lalu buatlah campaign berdasarkan tren tersebut.

 

7. Mengejar Target Pasar yang Tidak Sesuai Strategi Bisnis

Karena menargetkan pasar dengan perilaku tertentu, akhirnya sebuah bisnis bisa jadi salah segmentasi pasar. Hal ini dikarenakan adanya asumsi dasar yang bias.

 

Misalnya, Anda menjual skincare dengan menargetkan wanita usia muda. Hanya karena wanita usia muda menggunakan smartphone keluaran terbaru, Anda jadi menargetkan audiens yang update dengan gawainya. Padahal ‘kan, bukan itu inti menargetkan konsumen.

 

Solusi:

Kembali ke prinsip bisnis di awal. Targetkan konsumen berdasarkan kebutuhannya akan produk yang Anda jual. Misalnya, Anda menjual skincare, targetkanlah konsumen berdasarkan perilakunya dalam membeli dan menggunakan produk skincare.

 

8. Segmentasi Pasar Terlalu Kecil

Memang dalam menargetkan konsumen, Anda harus mencari niche tertentu agar lebih dekat dengan konsumen. Namun, jika niche-nya terlalu kecil, bukannya untung, melainkan buntung.

 

Karena pembeli sedikit, return of investment berjalan sangat lambat atau malah tidak sama sekali.

 

Solusi:

Gabungkan beberapa segmen kecil yang masih memiliki kesamaan, lalu buat campaign yang menargetkan pada mereka.

 

9. Tidak Mempertimbangkan Nilai Konsumen

Setiap orang memiliki value, termasuk target konsumen Anda. Sayangnya hal ini sering tidak diperhitungkan saat membuat segmentasi pasar. 

 

Solusi:

Setelah menargetkan pasar tertentu, telisik lagi, nilai apa yang bisa ditawarkan oleh segmen pasar tersebut. Gunakan lifetime value (CLV) atau potensi pendapatan dari satu segmen konsumen untuk menilai apakah sebuah segmen layak diinvestasikan.

 

Baca Juga: Strategi Komunikasi Kreatif yang Bikin Dekat dengan Konsumen

 

10. Tidak Ada Evaluasi Kesuksesan atau Kegagalan Segmentasi

Banyak bisnis menganggap segmentasi selesai setelah kampanye berjalan. Padahal, yang penting adalah apakah segmentasi itu menggerakkan metrik bisnis (penjualan, konversi, retensi) atau malah membuat bisnis stuck.

 

Solusi: 

Tetapkan KPI segmentasi seperti conversion rate, engagement rate, atau CAC (Customer Acquisition Cost) untuk setiap segmen.

 

Kolaborasi dengan Creative Faith

Terkadang, penjualan yang sepi bukan dikarenakan kualitas produk yang buruk, melainkan kesalahan dalam memasarkan. Jika dipasarkan pada orang yang tidak berpotensi membeli produk Anda, tentu produk tidak akan laku dan pembelian tidak terjadi.

 

Strategi tidak hanya dilakukan saat membuat produk, tetapi juga saat memasarkannya. Cara-cara kreatif harus dilakukan agar target pasar mengetahui produk Anda dan mempertimbangkan untuk membelinya.

 

Maka dari itu, Anda membutuhkan mitra strategis untuk merancang strategi kreatif dan berorientasi target pasar untuk mencapai tujuan dari marketing dan bisnis Anda..

 

Memiliki sejumlah portofolio dalam membantu brand dalam menciptakan berbagai strategi yang kuat untuk kebutuhan marketing, Creative Faith akan memikirkan semua sisi kreatif dan strategis untuk bisnis Anda. 

 

Apakah brand Anda siap naik kelas?

 

Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith!

 

 

 

AUTHOR
Admin