Jujur, ngomongin soal “kearifan lokal” tuh suka bikin mikir dua kali. Soalnya di satu sisi, ini bisa jadi harta karun buat brand. Tapi di sisi lain, kadang lebih cocok jadi bagian dari misi negara atau program pemerintah.
Waktu pertama kali ngerjain branding buat produk yang ngangkat nilai budaya—yang beneran ngulik dari akar cerita masyarakat lokal—rasanya beda. Bukan cuma mikirin desain yang estetik, tapi juga ngerasa punya tanggung jawab. Kita bawa cerita orang, tradisi, bahkan mungkin harapan satu komunitas.
Tapi pertanyaannya, emang harus semua brand lokal bawa embel-embel “kearifan lokal”?

Kalau Buat Produk, Relevansinya Harus Dirasain
Ada brand yang cocok banget main di jalur ini, apalagi kalau produk mereka lahir dari budaya itu sendiri—kayak tenun, kopi lokal, atau makanan khas. Tapi kalau produknya skincare dari Korea yang cuma mau kelihatan ‘tropikal’ terus tiba-tiba ngangkat filosofi Bali... yah, malah jatuhnya kayak gimmick.
Intinya: angkat kearifan lokal boleh banget, asal jangan maksa. Harus ada koneksi, harus jujur. Karena konsumen sekarang makin peka—mereka bisa bedain mana yang niat dan mana yang numpang tren.
Kalau Buat Negara? Wajib.
Nah, beda cerita kalau kita bahas branding buat kota, kabupaten, atau program pemerintah. Justru kearifan lokal itu harus jadi porosnya. Kita kan nggak bisa branding Yogyakarta tanpa budaya Jawa atau Aceh tanpa nilai syariat Islam dan adat Aceh.
Dan menariknya, banyak program pemerintah sekarang mulai ngerti pentingnya positioning. Contoh: branding wisata desa yang benar-benar disusun dari cerita warga lokal, bukan cuma dari slide presentasi konsultan. Ini contoh branding yang hidup.
Kapan Brand & Negara Bisa Kolaborasi?
Nah ini yang seru. Menurutku, brand bisa jadi jembatan untuk memperkuat kearifan lokal, asal disusun dengan nilai yang sama. Pernah waktu handle desain produk Kecap Bango sebagai kecap no 1 di Indonesia, kita bareng-bareng ngangkat cerita petani kedelai hitamnya. Dapet exposure, dapet impact sosial, dan surprisingly dapet kepercayaan audiens juga.
Dan di situlah branding terasa paling manusiawi.
Baca juga : 12.8% Engagement Tanpa Iklan? Ini Rahasia nya!
💬 Diskusi langsung dengan TanyaNoah AI sekarang!

