Banyak yang bilang: “Kenali audiensmu.” Tapi sejauh mana kita benar-benar kenal?
Buat kami, riset bukan cuma soal bikin list “pain & desire.” We love deep insight, mau tahu aktivitas harian mereka, cara mereka hadapi atasan, gimana coping mereka saat hidup lagi berat or happy. Karena kalau kita bisa jadi mereka, kita baru benar-benar bisa melihat: cocok nggak sih brand klien kita nyapa audiens tipe ini?
Karena jujur aja: nggak semua brand bisa menyapa semua audiens. Dan itu bukan kelemahan, itu justru kekuatan. Karena sama seperti manusia, brand juga punya kekurangan dan kelebihan.
Kita selalu ingin jual keunggulan, which is harus. Tapi, menurut kami ada tambahan lain yang juga ga kalah pentingnya, jadi brand yang berani jujur tentang kekurangannya—asal tahu cara memperbaikinya—itu justru bisa bikin koneksi lebih dalam.
Sekarang eranya keterbukaan. Audiens bisa lihat mana konten yang dibuat buat jualan, mana yang tulus. Influencer yang terlalu scripted? Engagement-nya drop. Tapi yang ngomong jujur—entah soal produk atau hidup—justru dapet koneksi lebih real.
Jadi, kalau kamu lagi mikirin cara bikin konten yang tepat, mulai dulu dari satu hal ini: mau nggak kamu benar-benar kenal siapa audiensmu, dan jujur tentang siapa kamu sebagai brand?
Buat saya pribadi, prinsip ini bukan sekadar strategi. Ini soal iman dan integritas.
.jpg)
Because if even faith and integrity can be bought, what's the point of creating a product that's ultimately built on sand?
Baca juga: 12.8% Engagement Tanpa Iklan? Ini Rahasia nya!
💬 Diskusi langsung dengan TanyaNoah AI sekarang!

