Iklan sudah cukup menarik dan memenuhi kriteria iklan ideal tapi performa justru menurun? Bisa jadi itu dikarenakan ads fatigue.
Ads fatigue terjadi ketika target audiens lelah melihat iklan Anda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Kemungkinan audiens langsung skip iklan Anda.
Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasi masalah ini? Simak penjelasannya di bawah ini, ya!
Memahami Ads Fatigue
Ads fatigue adalah kondisi saat efektivitas iklan digital menurun karena terlalu sering ditampilkan pada audiens yang sama.
Hal ini bisa terjadi pada semua platform digital, baik itu Facebook Ads, Google Ads, Google Display Network, Instagram Ads, TikTok Ads, LinkedIn Ads, dan lain-lain.
Iklan akan terus berjalan sesuai pengaturan yang telah Anda tetapkan di awal dengan menargetkan audiens yang sama. Audiens pun lama-lama akan bosan. Bahanya, mereka akan menganggap iklan dan brand Anda sebagai "spam".
Jika tidak ada variasi strategi, yang terjadi bukanlah cuan, melainkan boncos bujet iklan.
Anda tentu tidak mau seperti itu, 'kan?
Kenali Ciri-Ciri Ads Fatigue!
Ada beberapa ciri-ciri atau pertanda iklan Anda mengalami "kelelahan" atau ads fatigue, di antaranya adalah penurunan CTR dan engagement, peningkatan CPR, sentimen negatif di kolom komentar, serta frekuensi tayang terlalu tinggi.
Berikut adalah penjelasannya.
1. CTR Turun
Ketika CTR turun, Anda harus cepat menganalisis penyebabnya.
Biasanya, CTR turun dikarenakan audiens melihat iklan tetapi enggan melakukan interaksi (klik, mengisi formulir, transaksi, dll).
Coba deh analisis faktor-faktor penurunan CTR, mulai dari pesan yang mungkin sudah tidak menarik, visual yang sama ditampilkan dalam waktu lama, atau konten yang tidak relevan lagi dangan audiens.
2. Cost per Click (CPC) atau Cost per Result (CPR) Meningkat
Kondisi ini terjadi ketika biaya untuk satu klik atau sebuah hasil yang diharapkan menjadi mahal. Saat ini terjadi, pasti audiens sudah tidak tertarik lagi berinteraksi dengan iklan.
Alhasil, platform iklan terus menagih biaya walau performanya turun. Ini merupakan mimpi buruk para marketer, yaitu boncos.
3. Penurunan Engagement
Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, engagement (share, likes, komentar) menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan sebuah iklan.
Ketika engagement turun, berarti audiens tidak tertarik lagi berinteraksi dengan iklan atau brand Anda.
4. Frekuensi Tayang Terlalu Tinggi
Bayangkanlah Anda melihat iklan yang sama di media sosial beberapa kali dalam sehari. Apa yang terjadi? Tentu bosan, 'kan?
Nah itulah yang terjadi pada iklan Anda.
Frekuensi yang terlalu sering pada seorang target audiens bisa terjadi karena ruang lingkup audiens Anda terlalu sempit dan konten yang disajikan itu-itu saja.
Artinya, Anda perlu pembaruan konten.
5. Sentimen Negatif di Kolom Komentar
Jika ada komentar negatif yang menyiratkan bahwa kemunculan iklan Anda yang terlalu sering, artinya iklan Anda sudah di tahap "mengganggu" kenyamanan target audiens.
Kalau sudah di tahap ini, Anda harus brainstorming dengan tim untuk menentukan konten yang lebih kreatif untuk diiklankan.
Strategi Mengatasi Ads Fatigue
Lebih dari sekadar mengganti visual untuk menggatasi ads fatigue. Diperlukan strategi holistik untuk mengatasi ads fatigue.
Pada prinsipnya, Anda bisa mengatasi ads fatigue dengan merotasi konten secara berkala, menggunakan konten dengan storytelling yang powerfull, saring iklan berdasarkan segmentasi dan dipersonalisasikan, diferensiasi konten di platform yang berbeda, membatasi frekuensi iklan, tingkatkan keterlibatan audiens, dan optimalkan penggunakan AI sebagai asisten.
Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
1. Rotasi Konten secara Berkala
Dalam satu kampanye, buatlah tiga versi iklan dengan visual dan copywriting yang berbeda. Tidak masalah jika ingin menggunakan pesan yang sama, tetapi yang penting tampilannya tetap berbeda.
Lalu, Anda juga menggunakan sistem rotasi otomatis di platform iklan untuk menjaga variasi dan mencegah kejenuhan.
Meski telah terotomasi, bukan berarti Anda dapat lepas tangan. Tetaplah awasi performa iklannya untuk mencegah boncos atau kesalahan sama terulang.
2. Storytelling yang Powerfull
Storytelling adalah cara yang "paling mudah" untuk mengejar relevansi dengan audiens.
Carilah cara agar iklan Anda bercerita sehingga audiens rela menonton iklan untuk mengikutinya.
Misalnya, di hari pertama, munculkan teaser. Lalu, pada hari atau minggu berikutnya, munculkan cerita menyentuh bagaimana produk Anda membantu menyelesaikan masalah sehari-hari. Kemudian, di hari terakhir, tampilkan produk Anda beserta manfaatnya untuk audiens.
3. Segmentasi dan Personalisasi
Untuk mengelompokkan segmentasi, paling mudah adalah dengan mengikuti marketing funnel yang klasik, yaitu di mana marketing dibagi dalam tiga tahap, awareness, consideration, dan conversion.
Setiap tahap dalam funnel, harus dibedakan dari lokasi dan perilaku audiensnya.
Pada tahap awareness, lokasi dan perilaku yang ditargetkan pasti lebih luas. Sementara, pada tahap consideration, Anda dapat membuat iklan dengan menargetkan orang-orang yang sudah mengenal brand Anda.
Sementara, pada tahap conversion, Anda akan membuat konten untuk orang-orang yang sudah berniat membeli produk Anda dalam jangkauan wilayah yang lebih spesifik.
Baca Juga: Merancang Strategi Konten Media Sosial yang Unik dan Tingkatkan Engagement
4. Format Berbeda untuk Setiap Platform
Terkadang bukan masalah kontennya, melainkan penempatan konten pada platform yang salah.
Misalnya, konten edukasi serius mungkin kurang cocok di TikTok karena perilaku audiensnya yang menonton TikTok hanya untuk mencari hiburan. Dengan begitu, edukasi di TikTok harus dibuat seringan mungkin dan serelevan mungkin agar mereka tertarik menonton iklannya.
Variasi konten dapat memberikan nuansa yang fresh pada akun Anda di setiap platform. Ada banyak jenis konten yang bisa dicoba, mulai dari video panjang, video pendek, carousel, meme, dan lain-lain.
5. Batasi Frekuensi Iklan
Di platform seperti Meta Ads, Anda bisa mengatur frequency cap. Ini membantu agar audiens tidak terlalu sering melihat iklan Anda dalam satu periode tertentu.
6. Undang Interaksi dalam Iklan
Buatlah audiens berinteraksi saat menampilkan iklan.
Bagaimana caranya? Buatlah variasi iklan!
Misalnya, tampilkan iklan dalam bentuk kuis, polling, atau pertanyaan terbuka. Hal ini bisa mengubah iklan dari "gangguan" menjadi "aktivitas menarik".
7. Optimalkan AI
Manfaatkanlah AI sebagai asisten Anda untuk memprediksi ads fatigue. Tidak perlu ke mana-mana, tools AI yang sudah terintegrasi di Meta Ads dan Google Ads juga sudah bisa melakukan hal tersebut.
AI di dalam platform tersebut dapat mendeteksi penurunan CTR, kenaikan CPC, dan terlalu tingginya frekuensi iklan pada audiens.
Jadi, perhatikan tanda-tanda tersebut dan analisis dari AI-nya, ya!
Saatnya Berstrategi Lawan Ads Fatigue
Seperti yang dibahas sebelumnya, perlu strategi yang holistik untuk mengatasi ads fatigue.
Jika saat ini Anda terlalu sibuk mengurusi bisnis Anda, tenang saja, tidak perlu pusing untuk memikirkan ads fatigue.
Pasalnya, Creative Faith dapat membantu Anda memikirkan strategi yang tepat untuk mengatasi ads fatigue.
Dengan begitu, Anda bisa fokus pada hal-hal lain pada bisnis Anda.
Yuk, kolaborasi dengan Creative Faith untuk mengoptimalkan strategi marketing Anda!

