creativefaith logo

7 Cara Pasti Membangun Kepercayaan Pelanggan dengan Transparansi.

DATE
18 January 2024
READING TIME
4 mins
Ilustrasi client bersalaman dalam bisnis (Sumber:Freepik.com)

Dulu, saat pertama kali memulai usaha kecil, kita pikir yang penting itu cuma jual produk bagus. Tapi ternyata, ada satu hal yang sering dilewatkan—kepercayaan pelanggan. Dan setelah belajar (sering lewat trial and error), sadar dan nyata kalau transparansi itu kunci untuk menciptakan hubungan yang kuat dengan pelanggan.

 

Kalau kita pikir-pikir, siapa sih yang mau beli dari brand yang rasanya "misterius"? Nah, transparansi ini bukan cuma soal buka-bukaan, tapi juga soal memberikan kejelasan dan rasa nyaman. Jadi, gimana sih cara membangun kepercayaan lewat branding yang transparan? Yuk, kita bahas satu per satu!

 

1. Jangan Takut Jujur

Kita semua tahu, nggak ada produk yang sempurna. Tapi yang bikin pelanggan tetap percaya adalah bagaimana kita mengomunikasikannya. Misalnya nih, kalau ada kekurangan, ya sampaikan aja apa adanya. Tapi, jangan cuma berhenti di situ—tunjukkan juga solusi yang sedang kita usahakan.

Salah satu klien kami pernah sharing melihat brand kopi lokal yang jujur banget soal proses produksi mereka. Mereka bilang, “Kita masih belajar, dan kita selalu buka untuk masukan.” Hasilnya? Orang-orang malah makin cinta sama brand mereka karena kelihatan nggak dibuat-buat.

 

2. Tunjukkan Proses di Balik Layar

Penasaran ga gimana caranya sebuah produk dibuat? Suka banget kalau brand berbagi cerita soal proses produksi mereka. Rasanya kayak diajak jalan-jalan ke dapur mereka, lho.

Misalnya, kalau jual makanan, coba deh sesekali bagikan video singkat tentang bagaimana bahan-bahan segar dipilih atau proses masaknya. Ini nggak cuma bikin orang yakin soal kualitas produk, tapi juga memberikan rasa keterhubungan yang lebih personal.

 

3. Jelaskan Misi Brand Kamu

Pelanggan zaman sekarang nggak cuma beli produk; konsumen beli cerita. Kalau brand punya misi sosial atau di Brand with Faith, nilai-nilai tertentu, atau tujuan besar lainnya, jangan ragu untuk cerita.

Ada salah satu brand kecap manis yang setiap pembelian produknya mendukung pemberdayaan perempuan di daerah terpencil. Saya langsung merasa, “Wah, keren juga ya. Saya bukan cuma beli kecap, tapi ikut support sesuatu yang berarti.”

 

4. Dengerin Pelanggan, Beneran Dengerin

Ini bagian yang kadang kita lupa. Kritik dari pelanggan itu sebenarnya hadiah, walaupun kadang bentuknya nggak selalu manis. Coba tanggapi dengan tulus. Kalau ada keluhan, balas dengan solusi. Kalau ada pujian, ucapkan terima kasih dengan sepenuh hati.

Bila dapat DM dari pelanggan yang komplain soal packaging produk, jangan defensif duluan ya. Coba dengarkan keluhannya dan langsung perbaiki, dia malah jadi pelanggan setia. Kadang, solusi simpel bisa bikin perubahan besar.

 

Baca juga : https://creativefaith.co.id/blog/nggak-semua-bisnis-cocok-promosi-di-media-sosial-loh-ini-5-contoh-nya-simak

 

5. Transparansi Harga Itu Penting

Siapa sih yang nggak suka kejelasan? Kalau soal harga, jangan bikin pelanggan bertanya-tanya. Jelaskan aja kenapa harga produknya segitu, misalnya karena bahan yang premium atau proses produksi yang spesial. Mereka jadi paham kalau harga itu ada alasannya.

 

6. Cerita Pelanggan Itu Emas

Testimoni dari pelanggan yang puas itu aset besar banget. Kalau ada pelanggan yang punya pengalaman positif, jangan ragu untuk minta izin membagikannya. Apalagi kalau denger produknya membantu konsumen saat sedang menghadapi hari-hari sulit, menyenangkan banget kan produk kita bisa membantu emosional konsumen. Audiens jadi lebih percaya karena melihat bukti nyata.

 

7. Media Sosial: Tempat untuk Jadi Diri Sendiri

Media sosial itu ibarat panggung kita. Tapi, ingat, nggak perlu berlebihan. Justru, saat kita berbagi hal-hal autentik, seperti cerita behind the scenes atau respon tulus ke komentar, pelanggan merasa lebih dekat. 

AUTHOR
Noah